FC2ブログ
 
6.Jawaban kembali untuk tulisan Goenawan Mohamad di KOMPAS
Jawaban kembali
untuk tulisan Goenawan Mohamad di KOMPAS

Michi TOMIOKA

Kritik yang berjudul "Tentang Proses Kolaborasi Kreatif 'Panji Sepuh'" oleh Bapak Goenawan Mohamad keluar di KOMPAS, halaman 21 (Seni) pada hari Minggu, tanggal 28 Agustus 2011 sebagai jawaban untuk tulisan saya yang berjudul “Kejujuran Produksi dalam Proses” di KOMPAS, halaman 21 (Seni) pada hari Minggu, tanggal 21 Agustus 2011. Saya menulis jawaban kembali di sini untuk tulisan Bapak Goenawan yang keluar di KOMPAS.

(1)Sikap Tidak Adil

Bapak Goenawan mengritik satu kata dari saya yang tidak dimuat di KOMPAS dalam paragraph ke3 dan ke4. Kalau "menjawab" di koran KOMPAS, beliau seharusnya berdasarkan atas tulisan saya di KOMPAS, supaya pembaca bisa menentukan mana yang lebih masuk akal, setelah membaca kedua tulisan tersebut. Kami perlu menghindari pemcampuradukan tulisan resmi di KOMPAS dengan tulisan dari sumber lain, dan bersikap "adil" terhadap para pembaca KOMPAS.

(2)Data Kurang Obyektif dan Pergeseran dari Fokus Kritik Saya

Bapak Goenawan menceritakan proses kreatif Panji Sepuh tahun 1993 dari paragraph ke7 sampai ke10 sebagai kutipan dari teks ceramah beliau sendiri di Teater Utan Kayu, dan dari paragraph ke11 sampai ke 12 merupakan penjelasan lainnya, kemudian beliau menceritakan proses tahun 2006 di dalam paragraph ke13 sampai ke14. Di sinilah saya menemukan dua kekurangan.

Yang pertama, kutipan itu adalah “ceramah yang saya sampaikan” (paragraph ke6), yaitu ceramah yang dilakukan Bapak Goenawan sendiri, hal itu hanya mengandung pengertian yang bersifat subyektif. Jika beliau mau menulis lebih teliti dan secara “tidak ceroboh” (paragraph ke5), diperlukan adanya data obyektif yang ditulis oleh orang lain dan atau hasil wawancara kepada para seniman yang bersangkutan.

Yang kedua, pokok persoalan menjadi bergeser. Padahal yang menjadi harapan saya adalah bukan penjelasan proses kreatifnya, tetapi “jawaban” mengapa isi buku program tahun 2011 berubah isinya dari buku program tahun 1993-1995.

Kalau, menurut Bapak Goenawan, “Sulistyo menyutradarainya tak sendiri, tetapi bersama teman-teman lain (paragraph ke12)”, mengapa hanya nama Sulistyo saja yang dicantumkan sebagai sutradara atau director dalam buku program tahun 1993-1995 maupun encyclopedia: Indonesian Heritage 8 Performing Arts? Menurut pendapat saya, hal ini karena posisi Sulistyo diakui sebagai penanggung jawab karya oleh para pendukung karya maupun dalam sejarah tari Indonesia.

Sehubungan dengan hal itu, kalau “bagi saya, Sulistyo lebih layak dan dihargai sebagai pengagas PS (=Panji Sepuh), bukan ‘sutradara pertama’(paragraph ke18)”, maka Bapak Goenawan perlu menjawab pertanyaan saya mengapa dalam buku program tahun 1993-1995 dan buku encyclopedia di atas menerangkan bahwa Sulistyo Tirtokusumo adalah sutradara pertama. Sekaligus, perlu menjawab pula mengapa tahun ini nama Sulistyo tidak tertulis sebagai sutradara pertama.

Selain itu, kalau “Sulistyo menyutradarainya tak sendiri, tetapi bersama teman-teman lain…dan para penari, khususnya Pamardi (paragraph ke12)”, Bapak Goenawan perlu menjawab mengapa nama Pamardi hilang dari Salihara Program Juli-Agustus 2011, padahal Pamardi berperan khusus dalam proses karya sejak tahun 1993-1995, sampai 2006 dan2011. Maka saya kira tidak sepantasnya menghilangkan nama Pamardi dari Salihara Program tersebut.

Di dalam (2), saya tidak mempersoalkan benar tidaknya isi cerita Bapak Goenawan tentang proses kreatif. Bagi saya, itu bukan pokok persoalan di sini, karena fokus pembahasan saya di sini adalah tentang isi buku program tahun 2011.

Saya sudah membahas beberapa kontradiksi antara tulisan Bapak Goenawan dalam KOMPAS dan tulisan dalam dokumen buku program tahun 1993-1995 atau buku encyclopedia tahun 1998. Saya yakin kontradiksi tersebut di atas tidak akan terjadi, apabila buku program tahun 2011 disusun lebih lengkap dan tidak hanya berdasarkan hasil “rumusan lebih sederhana (paragraph ke15). Dengan perkataan lain, terjadinya kontradiksi tersebut, pasti ada pertimbangan yang lain dari pihak penyelenggara.

(3)Contoh yang Mendukung Saya


Bapak Goenawan mengatakan, “Siapa yang peduli nama sutradara pertama Swan Lake?(paragraph ke19)”, pada kenyataannya, banyak pihak yang peduli dan menghargai nama sutradara pertama dari pementasan perdana (world premier) Swan Lake pada tgl.4 March 1877 di Moscow, oleh sutradara pertama, yaitu Julius Reisinger, di samping itu juga disebutkan nama konduktor, penata panggung per adegan, dan penari pertama untuk tokoh utama dll.. Selain itu juga, banyak data tentang berbagai produksi utamanya dan versi terkenal (ada banyak versi!) sejak pentas perdana. Perlu diketahui bahwa data-data seperti itu termasuk biografi sutradara pertama bisa ditemukan secara gampang di internet.

Kita bisa dapat menarik pelajaran dari contoh Swan Lake. Yang pertama, orisinalitas karya sangat dihargai di negara Barat modern. Tanggal lahir karya disebut “world premier” dan punya arti khusus. Nama sutradara pertama dan tokoh-tokoh utama yang mendukung orisinalitas karya dicatat. Yang kedua, garapan inovatif setelah pementasan pertama juga dihargai, dan diingat sebagai “versi *** (nama sutradara baru / penggarap)”. Yang tidak kalah pentingnya lagi, bahwa daya kreatifitas garapan baru selalu dinilai dan dibandingkan dengan penyutradaraan pertama atau versi yang sudah ada sebelumnya.

Dengan demikian, maka contoh Swan Lake tersebut malah lebih membuktikan pentingnya penghormatan terhadap jejak karya seni. Dapat dikatakan bahwa negara Russia termashur karena Swan Lake. Kekayaan seni di negara itu, atau di negara Barat pada umumnya, didukung oleh rasa hormat terhadap orisinalitas karya seni sekaligus pujian kepada para pembaharu maupun penurus karya.

(4)Tujuan Akhir Kritik Saya

Saya menyatakan bahwa kritik saya ini dari (1) sampai (3) dibuat hanya berdasarkan atas tulisan Bapak Goenawan yang keluar di KOMPAS pada tgl.28 Agustus 2011, dan tidak mecampuradukkan dengan tulisan dari sumber lain.

Kesimpulan tulisan saya sebagai berikut; 1. Bapak Goenawan sebenarnya tidak “menjawab” tulisan saya, dan pokok persoalannya sudah bergeser dari fokus kritik saya terhadap isi buku program Panji Sepuh tahun 2011 melebar ke masalah lain. 2. Bersikap kurang adil terhadap pembaca, dan menggunakan data tulisan yang bersifat subyektif dan kurang obyektif. 3. Contoh Swan Lake yang diberikan Bapak Goenawan justru mendukung pemikiran saya.

Saya harus menekankan di sini, serial tulisan saya dibuat tidak untuk menjelekkan atau menuduh “kepribadian” Bapak Goenawan Mohamad, tetapi menerangkan kekurangan “tulisan” beliau.

Salah satu tujuan saya adalah menawarkan isu yang perlu dibicarakan di Indonesia, yaitu, pentingnya penghormatan dan penghargaan terhadap orisinalitas karya serta pendukungnya. Hal itu harus diungkapkan di dalam buku program sebagai data tertulis, oleh sebab itu saya mengritik kekurangan yang ada di dalam buku program tahun 2011, karena sebuah buku program akan menjadi salah satu bukti sejarah.

Meskipun Indonesia merupakan negara kaya dengan kesenian daerah, namun termasuk negara yang masih miskin dokumentasi karya seni yang bersejarah. Kita perlu menghargai peran pelaku sejarah seatu karya seni, karena di situlah kebanggaan seniman generasi penerus pada khususnya, dan kebangaan warga Indonesia pada umumnya dapat terbangun. Seniman maupun masyarakat harus dapat bersikap adil untuk bisa saling menghargai dan menghormati orisinalitas karya seni masing-masing, agar kita juga dihargai dan dihormati dalam pergaulan internasional.

Epilogue

Tulisan Bapak Goenawan dalam KOMPAS bernada merendahkan, misalnya, “Sayangnya, ia tak punya dasar: tulisannya hasil ‘pengamatan’ yang ceroboh” (paragraph ke5).”, “Jelas, Tomioka (kabarnya ia seorang ‘peneliti’) tak cukup menggali informasi sebelum menuduh.(paragraph ke11)”, “semoga Tomioka tak jadi peneliti yang sembarangan (paragraph ke19)”. Benar tidaknya penilaian Bapak Goenawan terhadap saya, saya serahkan sepenuhnya kepada pembaca yang bisa mempertimbangkan dengan pandangan yang lebih jernih dan obyektif. Semoga…
8/28 グナワン・モハマッドの反論記事掲載
先週の日曜日(8/21)にコンパスKOMPAS紙に掲載された私の批評記事について、今週の日曜日(8/28)のコンパス紙ににサリハラのパトロンであるグナワン・モハマッドGoenawan Mohamad氏による反論記事が掲載されました。タイトルは"Tentang Proses Kolaborasi Kreatif 'Panji Sepuh'"です。

* 現在、コンパス紙はEdisi Digital(デジタル)版に会員登録していないと、当日も含め過去記事が読めなくなっています。
daftar tulisan2 tentang Panji Sepuh
●MEDIA CETAK
(1)
judul : --Kritik-- Kejujuran Produksi dalam Pentas
penulis: Michi Tomioka
media: koran harian KOMPAS
edisi: Minggu, 21 Agustus 2011, halaman 21 (halaman Seni)

(2)
judul: Imaji-imaji Panji Sepuh
penulis: Bambang Bujono
media: majalah mingguan TEMPO
edisi: 28 Agustus 2011, halaman 60-61 (halaman Tari)

(3)
judul: --kritik-- Tentang Proses Kolaborasi Kreatif 'Panji Sepuh'"
penulis: Goenawan Mohamad
media: koran harian KOMPAS
edisi: Minggu, 28 Agustus 2011, halaman 21 (halaman seni)


●TAUTAN YANG LAIN
(1)
judul: Panji Sepuh
media: Majalah TEMPO Online (Arsip)
* perlu hubungi customer service, kalau mau membaca tulisan lengkap
waktu: 11 September 1993

http://ip52-214.cbn.net.id/id/arsip/1993/09/11/AGE/mbm.19930911.AGE3211.id.html

(2)
judul: Rekonstruksi Panji Sepuh di Salihara
penulis: Aguslia Hidayah
media: TEMPO / interaktif
waktu: Kamis, 11 Agustus 2011 jam 15:28 (bagian Seni & Hiburan)

http://www.tempo.co/hg/panggung/2011/08/11/brk,20110811-351280,id.html

(3)
judul: Dialog tentang Dosa Tubuh
penulis: Nunny Nurhayati
keluar pertama: koran Tempo, 13 Agustus 2011

http://salihara.org/community/2011/08/13/dialog-tentang-dosa-tubuh

(4)
judul: Panji Sepuh: ‘What are the sins of the flesh?’
penulis: Juliana Harsianti
media: Jakarta Post
waktu: Selasa, 16 Agustus 2011 jam 7:00 (bagian Life)

http://www.thejakartapost.com/news/2011/08/16/panji-sepuh-%E2%80%98what-are-sins-flesh%E2%80%99.html

(5)
judul: Panji Sepuh Kembali Dipentaskan
penulis: Benny Benke/CN15
media: SUARA MERDEKA CYBER NEWS
waktu: 9 Agustus 2011 jam 18:05 (bagian Panggung)

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2011/08/09/3872/Panji-Sepuh-Kembali-Dipentaskan

(6)
judul: Panji Sepuh, Mengheningkan Tubuh
penulis: Benny Benke-37
media: SUARA MERDEKA CETAK
waktu: 15 Agustus 2011 (halaman Selebrita)

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/15/156205/Panji-Sepuh-Mengheningkan-Tubuh
5. Balasan kpd Bp Endo Suanda dari Michi Tomioka

5. Balasan kpd Bp Endo Suanda dari Michi Tomioka
oleh Michi Tomioka pada 26 Agustus 2011 jam 0:24
firtst appeared in Facebook


Terima kasih banyak atas “urun rembug” Bapak, dan mohon maaf terlambat respon dari saya. Memang kita harus membicarakan tentang definisi dan cara pemakaian istilah sutradara, koreografer, atau penciptaan dsb.. Ttetapi itu lebih baik dibicarakan dalam forum sendiri, karena temanya besar sekali. KITA MEMFOKUSKAN KASUS “PANJI SEPUH” DI SINI.

“Menurut tanggapan saya, sutradara sama dengan koreografer dalam dunia tari. Sutradara atau koreografer yang membentuk konsep karya kemudian mewujudkannya” (bagian (1) dari tulisan saya yang pertama). Itu sudah cukup untuk diskusi disini.

Saya bisa memaklumi kata Bapak; ‘“Penyusunan” program note adalah “pilihan” dari “sebenarnya-yang-kompleks” menjadi rumusan lebih “sederhana.”’

Akan tetapi, ‘Penyederhanaan sering dan tak terelakkan reduksionis… Selalu ada penghilangan “yang sebenarnya’ adalah penguraian yang tidak tepat dalam kasus “Panji Sepuh 2011”. Dalam kasus ini, masalah yang tidak bisa diabaikan adalah nama sutradara asli yang dihilangkan, sekaligus asal usul karya dipalsukan dengan munculnya kolaborator baru. Hal-hal ini adalah bukan hasil redulsionis yang tidak terelakkan, tetapi hasil penyederhanaan yang tidak benar.

Saya tidak setuju dengan pikiran Bapak bahwa ‘apa yang layak dan tidak layak untuk dikatakan dalam suatu program note, tidak ada satu standard baku’. Dalam penciptaan karya, yang paling penting adalah melahirkan unsur baru (konsep, bentuk, cara exspresi karya, dsb.). Walaupun tidak ada satu formulir untuk membuat program, standard baku harus tetap ada, yaitu, menghargai tokoh-tokoh yang melahirkan unsure baru.



4. Urung Rembug tentang Panji Sepuh

4. Urung Rembug tentang Panji Sepuh
by Endo Suanda on Thursday, August 18, 2011
first appeared in Facebook


Saya urun rembug.

Istilah komposisi, koreografi, dan sutradara, dalam musik dan tari tradisi Indonesia beda pemahamannya dengan dalam kesenian Modern atau Klasik Eropa Barat. Ketiga istilah itu tak ada dalam vokabuler tradisi. Tapi, di Indonesia istilah itu telah terbiasa dipakai. Begitu pula dengan “program note”: sama-sama “asing” tapi telah “biasa.” Seperti itu pula istilah Producer, Manager, Skenografer, dll.

  Pemakaian istilah asing, tentu saja tidaklah haram. Yang sering jadi soal adalah pengertiannya, maksudnya, yang berbeda dengan makna asli atau asingnya?bagi para pencantum maupun pembacanya, terutama tentang karya seni lokal yang memiliki akar dalam.

  Mungkin relevan untuk mengamati para seniman, sutradara, koreografer, produser, dalam menggunakan istilah-istilah itu dalam prilaku: bagaimana seorang komposer (“tradisi”) membuat komposisi atau koreografer membuat tarian. Menurut pengamatan (dan pengalaman) saya, berbeda (dengan di dunia seni Modern). Sang koreografer Indonesia (Bali, Jawa, Sunda, Minang, umpamanya), dalam “penciptaan” kadar “minimum” bisa jadi hanya berupa petunjuk pada (para) penari untuk (umpamanya) masuk dari suatu tempat, melakukan gerakan ini-itu memberi plot, jalannya pemeranan. Kadang dengan arahan gerak: ulap-ulap di situ, kengser ke sana, sabetan, srisig... dll. ? lepas dari setuju atau tidaknya kita atas pemakaian kata itu, demikianlah praktiknya.

  Koreografi Panji Sepuh tentu tidak sesederhana atau seminimum itu. Tapi juga tidak sama dengan pengertian koreografi “standard” Modern, di mana koreografer yang menciptakan dan penari yang menarikan. Sekitar 5 tahunan yang lalu Goenawan Mohamad pernah memberi ceramah di TUK tentang estetika. Salah satu yang disampaikannya, persis tentang ketakjelasannya yang disebut “koreografer,” dan yang dicontohkannya pun tentang koreografi Panji Sepuh, yang koreografernya Sulistyo Tirtokusumo. Sang koreografer memang punya konsep. Tapi ia tidak banyak menciptakan gerakan tari yang dilatihkan pada penari. Ia, lebih membuka atau bahkan meminta para penari untuk menemukan gerakan sendiri yang dianggapnya pas. Setiap kali latihan berbeda-beda penemuannya. Dengan itu, kata Goenawan, yang disebut koreografi dan koreografer, berbeda sekali dengan “pencipta-an” tari, tidak seperti penciptaan dalam sastra ataupun seni rupa. Koreografi adalah hasil proses kerja-bersama antara sang pemilik gagasan (awal) dengan para penari, dan para seniman panggung lainnya.

  Jika kita tengok kasus lain, misalnya ketika Rahayu Supanggah dan/atau I Wayan Sadra almarhum membuat komposisi, kebanyakan mereka bukan memberi notasi musik hasil karangannya, melainkan, mirip dengan Sulistyo, memberi kerangka garap, dengan atau tanpa notasi balungan. Dalam program note, ketika itu ipertunjukkan, mereka ditulis sebagai komposer, dan itu secara umum diterima. Mengatakan diri sebagai komposer di situ, bukanlah mereka bermaksud tidak menghargai para musisi yang turut “mencipta” melainkan terlalu kompleks, dan dianggap tak perlu untuk diuraikan secara “sebenarnya.”
  Banyak koreografi tari Jawa yang diterima sebagai karya para koreografer, empu (Ngaliman, Maridi, Sasmita Mardawa, hanya untuk menyebut nama), yang merupakan susunan atau rangkaian vokabuler gerak tradisi (bukan ciptaannya). Dalam masyarakat kita, mereka diakui sebagai “pencipta.” (Walaupun kemudian lahir istilah lain, “penata,” secara semantik tak begitu beda artinya dengan komposer, koreografer, atau sutradara. Pekan Penata Tari Muda misalnya, adalah Young Choregraphers’ Festival.)
  Dalam menyusun musik Panji Sepuh, Tony Prabowo pun berbeda sekali dengan penyusunan musik Tan Malaka. Musik Tan Malaka 100% ia komposisikan, dituliskannya dalam bentuk partitur, musisi memainkan itu, dan bahkan konduktornya pun orang asing. Musik Panji Sepuh tidak demikian. Mungkin hanya 70%, 80%, atau kurang dari itu, kita tak tahu persisnya, sulit menghitungnya. Sisanya adalah hasil para pengrawit. Lagu-lagu Jawa dalam Panji Sepuh, bukanlah ciptaan Tony. Rincian (pengakuan) detail tentang itu terlalu kompleks untuk dijelaskan secara “sebenarnya.” Dalam keduanya, kita akui juga Tony adalah komposernya. Sama, walaupun beda.

  Penyusunan program note adalah “pilihan” dari “sebenarnya-yang-kompleks” menjadi rumusan lebih “sederhana.” Ia disusun sesuai dengan keperluan pertunjukan, menurut yang mempertunjukkannya, atas interpretasi mereka pada kebutuhan penonton. Penyederhanaan sering dan tak terelakkan reduksionis?sama juga dalam tulisan akademis. Selalu ada penghilangan “yang sebenarnya.” Tapi sebaliknya, biasa muncul hal-hal yang tidak diperlukan oleh pertunjukannya an sich, seperti misalnya menyebut donatur, atau sponsor. Maka, apa yang layak dan tidak layak untuk dikatakan dalam suatu program note, tidak ada satu standard baku?seperti halnya standard pengertian koreografer. Itu kontekstual, partikular, subjektif.
  Namun demikian, dalam subjektivitas hampir selalu terdapat objektivitas, dan sebaliknya. Dengan itu maka kritik kesenian dimungkinkan adanya, bahkan relevan dan penting. Kini, terutama sejak maraknya pendekatan/kesadaran “kompleksitas” atau “relativitas” pelbagai ilmu sejak tahun 1970-an, kritik pun makin kompleks. Karena, banyak menghidari judgemental atau pengukuhan “kebenaran” nilai. Kesenian, seperti kita umumnya tahu, lebih banyak mengandung yang misterius ketimbang yang bisa diterangkan secara verbal. Di situ justru perannya: mengungkapkan yang tak bisa diterangkan dengan bahasa (verbal). Kritik, seperti halnya buku program, adalah keterangan verbal. Pilihan seniman dalam menentukan mana yang diambil dan tidak, termasuk dalam menulis, sering bukan “pilihan” dalam arti yang sebenarnya. Pilihan bisa berupa “takdir” atau “peristiwa” yang bukah hasil seleksi?sehingga sulit atau tak bisa diterangkan, bahkan oleh senimannya sendiri. Suatu analisis menarik tentang ini, disampaikan John Pemberton dalam suatu artikelnya 24 tahun lalu, "Musical Politics in Central Java (or How Not to Listen to a Javanese Gamelan)" Indonesia 44, 1987, Jika tak salah, Pemberton mencontohkan para musisi Jawa yang “improvisasi” dalam main musik tradisi. Improvisasi, dari suatu sisi bisa diartikan sederhana yakni secara spontan “memilih”salah satu dari sejumlah vokabuler cengkok. Akan tetapi, dalam praktek, penentuan pilihan itu datang dalam sekejap, mungkin hanya sepersekian detik. Sedangkan untuk “memilih,” kata Pemberton, seseorang perlu “kesadaran” kuat. Musisi tak punya waktu untuk menyeleksi?dan apalagi jika mengingat mereka suka minum sebelum main, yang mereduksi tingkat kesadaran, kemampuan memilih, “menyeleksi.” Maka, pilihan dalam hal itu bukanlah hasil pemilihan, melainkan datang dari bawah sadar, atas pengalaman praktik yang amat panjang, sehingga seolah lahir alamiah. Kesenian, mungkin serupa dengan kelahiran itu sendiri, bukan atas dasar pilihan. Jika inspirasi atau ilham adalah salah satu unsur kuat untuk kelahiran suatu karya, maka ilham jelas bukan pilihan, bukan rancangan, melainkan “takdir,” peristiwa, kejadian. Ia datang dari keentahan.

  Meskipun demikian, dalam karya seni juga banyak hal yang memang dirancang, dicari, diatur, dikomposisikan, yang sebagian juga hasil pilihan dari pelbagai kemungkinan. Mana yang hasil pilihan atau perhitungan, dan mana yang “peristiwa,” amatlah kompleks, kalau bukan “lucu” untuk dirinci, seperti seberapa banyak gerakan yang diciptakan koreografer dan seberapa banyak yang ditemukan oleh penari. Seni pertunjukan adalah hasil kooperatif dari banyak pihak. Bagaimana cara yang paling pas untuk mengakui kontribusi itu? Saya kira ini adalah pertanyaan kita semua, termasuk pertimbangan mau seberapa serius mempertanyakannya, seberapa rinci mau memperhitungkannya. Dan seberapa jauh kebutuhannya.

  Salam.
3. Balasan: Kpd Pak Goenawan Mohamad dari Michi Tomioka

3. Balasan: Kpd Pak Goenawan Mohamad dari Michi Tomioka
oleh Michi Tomioka pada 17 Agustus 2011 jam 16:22
first appeared in Facebook


Pak Goenawan yang terhormat,

terima kasih atas perhatian dan respon segera terhadap kritik saya. Namun, mohon maaf, cerita Bapak agak tergeser dari inti kritik saya.

  Untuk menulis sejarah karya, tidak usah membuat program yang tebal dan mahal. Sejarah itu bisa ditulis secara utuh maupun secara singkat, hanya tergantung ruang yang diberikan. Maka tim produksi harus mampu menimbang informasi apa yang lebih penting daripada yang lain, apa yang relatif tidak penting dan bisa dibuang, dari segi kepentingan sejarah karya itu sendiri.

  Ukuran catalog "Panji Sepuh" (A5, 8 halaman) cukup besar untuk menyinggung sejarah karya secara singkat, asal dibuat secara terfokus dan tertata. Sebagai saya katakan dalam kritik yang pertama, kalau menghapus tulisan si producer dan biodata masing-masing dipendekkan sampai totalnya menjadi 2 halaman, masih tersisa 2 halaman kosong. 2 halaman bisa dimanfaatkan untuk data riwayat pentas, 1 foto lama, dan sejarah singkat karya. Misalnya cerita Bapak dari paragraph ke2 sampai ke5 (itu sudah menyinggung sebagian sejarah) hanya mengisi 1/2 halaman saja(saya sudah hitung.).

Contohnya begini;
hal.1 halaman muka
hal.2-3 pengantar (0.5 halaman) dan tulisan Mas Yudi (1.5 halaman)
* Kalau tidak pakai huruf besar, tulisan Mas Yudi bisa menjadi 1.5 halaman.
hal.4-5 data riwayat pentas, foto lama, sejarah singkat karya
hal.6-7 Biodata para peserta
hal.8 Credit Nama dan foto pentas, atau data pentas disini

Pak Goenawan, saya sama sekali tidak minta membuat katalog pentas yang melengkapi sejarah utuh karyanya. Saya hanya menyarankan supaya memberi tempat untuk menyebut sejarah karya, supaya memberi kehormatan kepada semua yang bersangkutan termasuk Bapak sendiri. Menyebut nama tokoh2 yang berperan besar untuk melahirkan karya, menerangkan data riwayat pentas dan foto lama, dan mengutarakan konsep secara singkat dari mulut sang sutradara asli atau dari kliping koran maupun program lama, ini semua untuk mewujudkan kohormatan terhadap sejarah karya. Penonton juga akan menyadari kepentingannya, kalau diberi contoh oleh seniman senidiri.

  Meskipun sejarah "Panji Sepuh" akan dibuat secara detail dan lengkap, itu tidak tentu mirip sebuah skripsi. Ada banyak metod dan pandangan untuk pendekatan fakta-fakta realitas. Ilmuwan, budayawan, pengarang, aktivis sosial punya cara pendekatan masing-masing. Harapan saya Pak Goenawan akan menyontohkan cara pendekatan yang pantas sebagai seorang budayawan terkemuka.

  Terima kasih.

  Hormat saya
Michi Tomioka

2. KETERANGAN TENTANG "PANJI SEPUH"
2. KETERANGAN TENTANG "PANJI SEPUH"
by Goenawan Mohamad on Wednesday, August 17, 2011 at 4:01am
first appeared in Facebook


Tulisan Michi Tomioka saya hargai sebagai kritik, tetapi agaknya perlu saya kemukakan di sini: dalam pengalaman saya di Indonesia, buku program punya keterbatasannya sendiri. Ia tak bisa tebal, baik karena beaya maupun karena tujuannya: pegangan praktis dan elementer buat penonton. Buku program lazimnya berbeda dengan katalogus pameran besar, apalagi skripsi.

Proses penciptaan "Panji Sepuh" -- yang saya ikuti sejak pertama -- sangat kompleks. Kata 'kolaborasi' penting, sebab hampir tiap peran dikerjakan lebih dari satu orang. Termasuk penyutradaraan. Sulistyo Tirtokusumo adalah penggagas dan sumbangannya sangat besar dalam membentuk adegan (termasuk payung terbakar) tapi dalam eksplorasi selanjutnya, dalam memberi pengarahan dan bentuk, ia tak sendiri. Seingat saya Tony Prabowo dan skenograf Rudjito juga berperan, dan saya menyumbang di sana-sini. Bahkan koreografi praktis disusun para penari. Dalam produksi pertama, mereka adalah Elly Luthan, Wiwiek Sipala, Restu Imansari, Maria Hutomo dan Pamardi. Seingat saya, Wiwiek memperkenalkan gerak pakarena dalam produksi pertama dan Restu melakukan improvisasi. Pamardi praktis menciptakan geraknya sendiri dan memilih tembangnya sendiri. Tentu saja ada sumbangan penting Elly dan Maria.

Dalam produksi selanjutnya, misalnya yang di Singapura, saya menjadi sutradara, tapi sumbangan Teguh Ostenrik banyak: misalnya adegan tiga penari, pengecatan wajah, dsb. Kali ini pun para penari, jumlahnya jadi tujuh, membangun koreografi yang berbeda: ada 'laku dhodok' dan lain-lain. Siapa yang punya ide dan bagaimana terjadinya, saya tidak tahu.

Dengan penyutradraan Yudhi Tadjuddin, perubahan juga terjadi. Yudhi sangat reseptif terhadap ide para penari, tapi justru dengan demikian, kreasi ini kembali jadi kolaborasi - meskipun pengarahan Yudhi jauh lebih produktif ketimbang sutradara sebelumnya.

Tiap kali agaknya "Panji Sepuh" sebuah ciptaan baru. Beberapa anasirnya tentu saja tetap: topeng, payung terbakar, penari putra (yang kebetulan selama 18 tahun tetap ditarikan Pamardi). Tapi penafsirannya berbeda besar. Dalam produksi di Singapura, misalnya, tak ada unsur "khaotik' -- yang menyebabkan "Panji Sepuh" kurang hidup, menurut saya. Di bawah Yudhi, unsur itu dihidupkan lagi bahkan diberi bentuk yang lebih dramatik.

Dengan kata lain, "catatan sejarah" proses penciptaan 'Panji Sepuh' (yang kompleksitasnya agaknya tak dibayangkan Tomioka-san) secara detail dan lengkap belum pernah dibuat. Kalau pun akan dibuat, pasti akan lebih mirip sebuah skripsi ketimbang buku program. Tapi ratusan penonton yang datang tak memerluka
n itu, Peneliti-lah yang memerlukan itu.

Maka saya silakan Tomioka-san mengadakan penelitian tentang proses "Panji Sepuh", dan menulis satu buku, misalnya tentang itu. Tapi saya ragu apakah saya akan memakainya sebagai buku program.
1. Masalah Produksi "Panji Sepuh" yang Dicerminkan dalam Program Pentas

1. Masalah Produksi "Panji Sepuh" yang Dicerminkan dalam Program Pentas
oleh Michi Tomioka pada 16 Agustus 2011 jam 14:48
first appeared in Facebook


Bersama ini saya menyampaikan beberapa kritik dan saran mengenai susunan program pentas "Panji Sepuh" yang dilaksanakan di gedung Salihara pada tgl.12-13 Agustus 2011. Saya menonton pentas ini tgl.12 malam. Saya mengritik kekacauan yang terlihat dalam program ini, karena itu pasti akan mencerminkan kekacauan dalam produksinya.

(1) Credit Nama Sutradara Asli
Nama sutradara asli, yaitu Sulistyo Tirtokusumo tidak disebut secara resmi dalam program ini, namun disebut sedikit dalam catatan Yudi Ahmad Tajudin (“sutradara”) dan Laksmi Pamuntjak (producer). Hadir tidak hadir di panggung, mati atau belum mati, nama "ORIGINAL AUTHOR” atau sutradara asli harus diterangkan. Perlu diingati bahwa nama Shakespeare selalu disebut dalam garapan apapun sampai sekarang diseluruh dunia. “SANGKAN PARANING DUMADI” perlu ditanyakan; karya ini datang dari mana dan tujuan ke mana? Asal usul karya tidak kalah pentingnya dari tujuan karya.

“Panji Sepuh” bukan karya kolaborasi antara Sulistyo Tirtokusumo, Tony Prabowo, dan Goenawan Mohamad, sebagai ditanggap oleh Yudi dan si producer. Buktinya sebagai berikut; “sutradara: Sulistyo Tirtokusumo, musik: Tonny Prabowo, lirik-tembang: Goenawan Mohamad” dari program untuk pentas di TIM (pp.1), “Director: Sulistyo Tirtokusumo, Music: Tonny Prabowo, Lyrics: Goenawan Mohamad, Set Desighner: Roedjito” dari program untuk pentas di Melbourne 1994 (pp.7) serta di Korea 1995 (pp.5), “Panji Sepuh (Elder Panji) a production by Sulistyo Tirtokusumo” (pp.111) dan “Panji Sepuh choreographed by dancer Sulistyo Tirtokusumo” (pp.117) dari Indonesian Heritage 8 Performing Arts. Encyclopedia ini menerangkan “Panji Sepuh” diakui sebagai karya Sulistyo Tirtokusumo secara formal dalam sejarah tari Indonesia.
  Tanggapan “karya kolaborasi” muncul dari mana? Bisa diprakirakan dari kenyataan bahwa ada yang diangkat menjadi “kolaborator” dalam pementasan kali ini.

  Dengan alasan tersebut di atas, tidak tepat mengkatakan Yudi adalah sutradara karya “Panji Sepuh”. Dia adalah penggarap yang diundang untuk pementasan kali ini. Menurut tanggapan saya, sutradara sama dengan koreografer dalam dunia tari. Sutradara atau koreografer yang membentuk konsep karya kemudian mewujudkannya. Sebaliknya, penggarap adalah koki yang masak bahan yang sudah ada, atau penggali karya lama. Saya tidak mengecilkan peranan penggarap. Di dunia tari tradisi, hampir semua karya adalah karya garapan. Penggarap yang luar biasa akan menyajikan tafsiran baru yang mengatasi imaginasi kita termasuk sutradara asli, dimana kreativitas penggarap muncul.

(2) Jejak Karya
Dalam program ini, kita tidak bisa menemukan catatan keterangan secara obyektif tentang garapan asli, sejarah perubahan garapan, atau data riwayat pentas karya. Tidak ada bukti riwayat pentas berupa photo panggung, kliping Koran, reprint article dari brosur lama (misalnya kata pengantar oleh Jennifer Lindsay untuk pentas 1994), atau referensi dari buku seperti encyclopedia yang telah disebut diatas.
  Saya menyarankan agar program pentas “ulang” menyangkut informasi semacam itu, supaya penonton dan peneliti, masa kini maupun masa depan, akan bisa mengikuti jejak karya ini, atau akan bisa TRACE BACK THE HISTORY OF “PANJI SEPUH”. Sebuah program pentas kecil pun bisa menjadi dokumen sejarah yang berharga. Di Jepang hal ini sudah biasa, mungkin karena kami suka menghargai asal usul dan sejarah karya. (1) dan (2) sebenarnya dua sisi yang lain dari hal yang sama.

(3) Tujuan dan Makna Pentas Ulang  
Tidak jelas tujuan dan maknanya untuk pementasan ulang dengan garapan baru, dengan penggarap baru pada masa kini. Mungkin banyak penonton mau diberitahu hal itu. Saya harap ada penjelasan oleh Bp Goenawan sebagai prakata di halaman paling depan.
  
(4) Susunan Catatan  
Sehubungan dengan hal (3), susunan catatan dan pilihan pengarangnya aneh. Catatan Mas Yudi terkemuka akan memberi kesan yang salah bahwa “Panji Sepuh” adalah karya Mas Yudi. Itu harus diawali prakata àlihat (3).

  Catatan si producer tidak usah dimuat. Itu terdiri dari 2 bagian; konsep asli dan ide garapan baru. Keduanya bukan urusan si producer. Ide garapan baru cukup dijelaskan oleh Mas Yudi saja. Konsep asli karya bisa diutarakan oleh sang sutradara asli (karena beliau masih hidup), atau diprint dari program pentas pertama saja.

  Karena nampak sekali si producer kurang memahami konsep asli dan campurkan konsep asli dengan konsep tambahan baru. Duganya dia kurang berkomuniksi dengan sang sutradara asli. Kata “menurut para abdi dalem Kasunanan Surakarta…” dari paragraph yang pertama berkontradiksi dengan kata “Adalah Sulistyo Tirtokusumo yang pertama kali mendengar tentang ritus ini, dari guru tarinya” dari paragraph yang kedua. “Sulistyo sendiri tumbuh di Kraton Solo” dari paragraph yang kedua tidak benar, tetapi “Sulistyo sendiri tumbuh di linkungan Kraton Solo”.

  “Di awal kolaborasinya dengan Goenawan Mohamad, sang penulis lirik,dan Tony Prabowo, sang komposer, mereka lama bergulat mencari idiom teater yang tertepat bagi karya tersebut. Panji Sepuh pada dasarnya adalah sebuah karya kolaborasi. Semua anggota tim adalah bagian dari kreasi.”

  Tulisan tersebut diatas dari paragraph yang kedua menyingung intinya proses berkarya. Jika episode ini benar, meskipun saya belum pernah dengar cerita ini sama sekali, itu harus dimuat dalam program pentas 1993-1994, terutama dalam pengantar program untuk pentas di TIM 1993, karena pengantar tersebut dikarang oleh Goenawan Mohamad sendiri, kata Sulistyo Tirtokusumo. Akan tetapi, cerita ini tidak ditemukan dalam pengantar tersebut. Memang sutradara adalah Sulistyo Tirtokusumo dalam program itu juga. Ternyata si producer menulis catatan ini berdasarkan pada informasi yang tidak berakar.

  “Dengan Sembilan penari dan sembilan pengrawit, Panji Sepuh dalam bentuknya…” dari paragraph yang keempat adalah ide baru, dan bukan dari konsep asli. Menurut program TIM 1993, “Drama tari ini dihadirkan oleh lima orang penari utama yang mengenakan topeng dan dua peran pembantu.” Ide baru boleh dituangkan, tetapi harus disadari perbedaan antara garapan asli dan garapan baru. Penggarap baru sekaligus si producer baru harus menanggung jawab pada bagian ide baru.

(5) Susunan Bio(data)
  Susunan bio(data) peserta karya tidak terfokus dan tidak tertata apalagi terlalu panjang, maka memberi kesan seperti iklan masing-masing yang berderet-deret. Saran saya, biodata mereka tidak usah secara terperinci, tetapi perlu terfokus pada komitmen atau ikut-terlibatnya mereka dalam proses dan sejarah karya ini.

  Bio sutradara asli; Sulistyo Tirtokusumo tetap perlu, karena konsep karya tidak bisa dipahami tanpa pengertian latar belakang beliau. Simbol-simbol yang mucul dalam karya ini tidak lepas dari pengalaman beliau sebagai penari di Kraton Surakarta.

  S.Pamardi adalah penari yang bermain tokoh raja sejak pentas pertama. Penari asli yang ikut terlibat proses berkarya tinggal beliau saja, namun hal ini tidak disadari oleh si producer atau lainnya, maka hal ini tidak disebut sama sekali dalam program ini. Bahkan nama pun tidak dimuat dalam Program Juli-Agustus 2011 dari Salihara. Ini kesalahan besar bagi Salihara. Penari yang lain ikut pentas sejak tahun 2006 atau baru kali ini. Mereka bukan penari asli. Hal itu juga perlu dijelaskan. Memang peranan mereka relatif kecil, dalam arti tidak ikut proses melahirkan karya. Landung Simatupang memeran tokoh yang dimainkan oleh Sulistyo Tirtokusumo sendiri sampai 2006. Hal itu juga perlu disebutkan.

  Maksud saya supaya menjelaskan apa yang tidak merubah dan apa yang merubah. Dengan kata lain, menerangkan asal usul karya dan tujuan karya. Kalau diberi informasi yang benar tentang perbedaan antara penyutradaraan asli dan garapan baru, kita akan bisa mengapresiasikan karya secara lebih detail. Kita bisa menilai dan menikmati satu per satu tentang konsep asli, choreography lama, ide baru dari sutradara, improvisasi penari dsb. Penysutradaraan asli melebihi garapan baru pada titik tertentu, di samping itu garapan baru juga akan melebihi karya asli pada titik tertentu yang lain.
  
(6) Urutan Credit
Urutan credit nama penari aneh. Urutannya harus ditentukan sesuai dengan peranan dalam karya sekaligus career penari dengan peneuh perhatian. Urutan credit nama yang paling penting bagi para peserta. Duganya staff di Salihara kurang perhatikan persoalan sensitif ini. Saya memberi contoh credit nama yang lebih baik, menurut saya (àlihat halaman terakhir). Mengapa nama S.Pamardi ditaruh di bagian belakang? Peranan beliau berbeda dengan peranan penari kelompok perempuan, apalagi lebih senior dan penari asli dari penas pertama, maka lebih tepat pasang nama di paling depan. Mengapa penari dan actor dipisahkan? Namun Landung adalah pemain teater dan bukan penari, hal itu cukup disebut dalam bio saja. Beliau adalah penganti Sulistyo Tirtokusumo, dan tidak usah pisahkan dari penari yang lain.

  Ada penjelasan tentang pengrawit dalam credit nama (halaman belakang) bahwa “Para Pengrawit di bawah pimpinan Giono S.Kar telah bertahun-tahun terlibat dalam pementasan Panji Sepuh dalam versinya yang berbeda-beda.” Dan ada penjelasan lagi “Yusman Siswandi yang telah berbaik hati membantu kami dengan pewarnaan kostum”. Penjelasan-penjelasan seperti itu tidak boleh dimasukkan disini, karena bagian daftar nama, tetapi harus diberi tempat dalam bagian bio. Di bagian credit nama, nama saja yang ditulis.

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan program pentas ini, saya mengambil kesimpulan bahwa program ini dibuat tanpa riset cukup mengenai riwayat pentas sejak 1993, tanpa komunikasi dengan sang sutradara asli, tetapi dengan pandangan yang tidak netral. Nama sutradara asli disembunikan, peranan penari dari sejak awal dikecilkan, cerita asal usul karya dibuat baru dengan cara campur kebohongan dengan kebenaran, dan komponis dan lirik diangkat menjadi “kolaborator sejak awal”. Seolah-olah terjadi kup. Kekacauan yang terlihat dalam program ini mencerminkan realitas dalam produksi karyanya.
8.21 KOMPASに文章が掲載
2011年8月21日(日)付で、インドネシアの全国紙コンパスKOMPASの
21面(芸術面)に、私の書いた批評 "Kejujuran Produksi dalam
Pentas"が掲載されました。インドネシア語です。

8月12-13日にジャカルタのサリハラ劇場でリバイバル上演された
"Panji Sepuh"という公演について、公演プログラムに反映された問題
(オリジナル作者の名前が消され、新たなコラボレーターがフィーチャー
されている)を扱っています。

記者による公演のレビュー記事と併せて掲載されました。赤線枠で囲った
部分が私の記事です。

kompas批評文掲載


たぶん来週日曜のKOMPASで、私が批判した相手(サリハラのパトロンで
詩人、TEMPO誌創立者&編集者のGoenawan Mohamadら)による反論
記事が掲載されると思います。

なお、掲載記事のもとになった記事がすでにFacebookで公開され、それに
対するGoenawanの回答と、さらに私の回答、今回の演出家の反論コメント、
民族音楽研究家Endo Suandaのコメントなどが、読めますので、Facebookに
ご加入されておられましたら、michi tomiokaの欄をご覧ください。
8.12 Panji Sepuh
舞踊公演「Panji Sepuh」
8月12日20:00~ Salihara サリハラ(ジャカルタ)にて

実はこの作品について、Facebookでホットな論争が展開しています。私も(というか、そもそも私が火元ですが…)それに書いていますので、Facebookに入っていて、インドネシア語が読めるという人はのぞいてみてください。

私のFace Book名はmichi tomiokaです。
私の文は私のノートから、Goenawan Mohamadの反論と、演出のYudi Ahmad Tajudinの論は私についてのノートから読めます。