FC2ブログ
 
マタラムの王を描いた絵の展覧会のお知らせ
マタラムの王たちのポートレートを書いた展覧会だそうです。でもスナン・カリジョゴは王ではありません…。こんなおじさんたちの絵を買いたい人はいるんでしょうか?

PRESS RELEASE:

PAMERAN LUKISAN "MULAT SARIRO"
Pameran Lukisan Tokoh-Tokoh Raja Mataram

karya: Basuki Bawono

19 – 25 Januari 2008
Joglo Taman Sriwedari
Jl. Slamet Riyadi 275 Solo


Pameran lukisan (potret) karya Basuki Bawono (Bandung) diselenggarakan dan diprakarsai oleh Hj. RA. Agustien Wibiasty, menampilkan lukisan potret antara lain; Sunan Kalijogo, Panembahan Senopati, Sultan Agung Hanyokrokusumo, SISKS, SISKS Pakubuwono III, Paku Buana Ke X, , KGPAA Mangkunegoro II, KGPAA Mangkunegoro IV, KGPAA Mangkunegoro VI Dan KGPAA Mangkunegoro VII. Pameran tersebut seolah ingin mengajak kita untuk mengingat kembali fenomena masa lalu tentang keagungan, keteladanan, kekerabatan dan kebersatuan yang sudah kita lupakan, kemudian diracik dalam bahasa lukis "Potret" dengan gaya naturalis impress.


Pameran Karya Basuki Bawono (Bandung) menampilkan lukisan bertemakan "Mulat Sariro" yang diambil dari kalimat Tridarma yang berbunyi: Melu handarbeni; Melu hanggondeli; Mulat sariro hangroso wani (Mangkunegoro I), dengan obyek tokoh-tokoh Raja Jawa Tokoh-tokoh tersebut mengingatkan kita tentang ajaran budaya yang mereka bangun sebagai ajaran kautaman kepada masyarakat tentang tatalaku hidup dan kehidupan. Ajaran talaku hidup yang didasari oleh "budi luhur" yang menjadi dasar dan sarana untuk mencapai kasampurnaning urip (kehidupan sejati). Renungan ajaran budaya jawa tentang sikap dan tatalaku hidup sebagai manusia yang mendambakan kautamaning gesang bebrayan yaitu renungan tentang bagaimana seseorang harus mempertahankan hidup dan kehidupannya (hak dan kewajiban) sebagai manusia yang berbudi luhur. Renungan tentang tata laku susila (etika) bukan merupakan refleksi teoritis belaka, melainkan merupakan tindakan dari prilaku baik sebagai sarana mencapai kesempurnaan, yaitu menjalankan " dharmma": kewajiban seorang manusia dalam hidup dan kehidupannya, bila mana kewajiban ini senantiasa dilakukan dengan baik, maka kita akan mendapatkan " makaputusa sang hyang kalepasan": dia akan mencapai kamuksan atau kebebasan (liberation).

Pandangan orang Jawa dalam melihat, memahami, dan berperilaku juga berorientasi terhadap budaya sumber. "Proses budaya Jawa selaras dengan dinamika masyarakat yang mengacu pada konsep budaya induk, yaitu " sangkan paraning dumadi " Kelahiran dan atau keberadaan karena adanya hubungan antara manusia dengan Tuhannya melalui proses kelahiran, hidup dan mendapatkan kehidupan, yang semuanya terjadi oleh adanya sebab dan akibat. Konsep tersebut dalam budaya Jawa dikenal dengan istilah nunggak semi. Fenomena ajaran nunggak semi, dalam kedudukannya seseorang harus mampu memproyeksikan dan menempatkan dirinya sebagai manusia yang lahir dan dilahirkan, oleh adanya hubungan antara manusia dengan Tuhannya melalui proses kelahiran . Maka kita wajib menghormati dengan cara meneruskan ajaran mereka dengan berprilaku dan bertindak sesuai dengan ajaran budaya Jawa, seperti yang mereka bangun dan mereka ajarkan kepada kita semua masyarakat Jawa.

Renungan ajaran tentang pencarian jatidiri digambarkan dalam cerita dalam pupuh "Bima Suci" karya Yasadipura I.dan II merupakan pujangga pada Pemerintahan Mataram. Ketenaran tokoh Bima dalam mencari air suci "Perwitasari" (air kehidupan), memperoleh wirid dalam ilmu sejati, merupakan bukti ajaran budaya yang cukup populer dan berakar dalam kehidupan orang Jawa (karya Yasadipura I, 1729-1801). Renungan filsafat yang didapatkan di dalam serat Dewa Ruci adalah "Filsafat Mistika" ( Mystical Philosophy), yang diperoleh tidak melalui penalaran rasional, melainkan melalui "penghayatan batin" ( inner experience) dengan jalan samadi (meditation). Di dalam kesadaran samadi ( altered atau meditative state of congclousness), manusia memperoleh "pengetahuan penghayatan" (experiential knowledge). Pengetahuan ini dituangkan dalam cerita kias perjalanan Bima dalam mencari air kehidupan. Bima mendaki gunung masuk ke dalam samudera dan bertemu dengan Dewa Ruci dan masuk kedalam tubuhnya, akhirnya mendapatkan boneka gading. Ini semua menggambarkan: Aku ( ego) mengatasi kesadaran aku (ego consciousness), masuk alam tak sadar (the conscious), bersatu dengan Pribadi ( the Self) dan memperoleh pengetahuan dengan melihat hakekat hidup sebagai boneka. Tercermin adanya proses transcendental dan transendensi dari kesadaran ego atau panca indrawi menuju kesadaran Pribadi (s elf consciousness) dan akhirnya mencapai kesadaran Illahi dan atau alam semesta (cosmic consciousness). Seluruh proses ini menjadi experiental knowledge dan dituangkan ke dalam conceptual knowledge pada antropologi dan epistimogi mistika.

Renungan filsafat lewat cerita "Bimo Ruci" merupakan karya sastra berbentuk syair dalam tembang macapat. Estetika yang dibangun oleh Yadipura menitikberatkan pada paduan antara keindahan sastra tembang dengan ajaran kebaikan. Ajaran yang menggambarkan tentang pengembaraan batin manusia dalam mencari sari kehidupan manusia. Manusia dalam mencapai Kasampurnan Jati dihadapkan dalam tujuh tingkatan ujian ( langit sap tujuh) menuju tingkat kehidupan yang tertinggi yang disebut dengan alam Niskala (lihat konsep ajaran budaya tentang Tri-loka/Tri-buana). Masyarakat Jawa (Nusantara) sadar bahwa hidup didunia hanyalah semu, dan mesti mengetahui hidup yang sesungguhnya (hidup yang abadi). Maka semasa di dunia perlu bekal untuk masuk kedalam kehidupan yang sesungguhnya, maka manusia harus suci lahir batin

Fenomena pameran ini nampaknya berangkat dari sebuah perjalanan panjang Hj. RA. Agustien Wibiasty melalui "penghayatan batin" ( inner experience) dengan jalan perenungan dan pengendapan diri seperti samadi (as meditation). Di dalam kesadaran dan perenungan ( altered atau as meditative state of congclousness), manusia memperoleh "pengetahuan penghayatan" ( experiential knowledge). Disinilah muncul sebuah fenomena antara dorongan batin hasil hayati dan kemauan untuk mewujudkan. Maka terjadilah sebuah pameran ini. Sebuah Potret Fenomena Ajaran "Budi Luhur" dalam Paradigma Seni.

Penulis & Contact Person:
Dr. Dharsono, M.Sn (Sony Kartika) doctor lulusan ITB
Lektor Kepala ISI Surakarta, Pengamat Seni Budaya