FC2ブログ
 
子供の巡回ワヤンのお知らせ
プレスリリース

今年2月から8月にかけて、「クリウォンの日曜」前夜に、子供によるワヤン(影絵)の巡回公演がソロ市内各所であります。

WAYANG LINTANG JOHAR
Pentas Keliling Dalang Bocah Malam Minggu Kliwon
Februari – Desember 2008



anak-anak: masa depan sumber mata air tradisi

A. Latar Depan

Kuo Pao Kun (2001), tokoh teater modern Singapura, mengatakan anda cukup beruntung menjadi bangsa Indonesia, bisa meminum begitu banyak sumber mata air tradisi di Indonesia. Ungkapan Pau Kun tersebut cukup releven jika kita menengok bagaimana eksistensi seni tradisi bagi anak-anak di perkotaan, khususnya Kota Solo. Ruang-ruang publik kultural sebagai ruang bermain di perkotaan makin menyempit dan nyaris punah, hanya ruang ekonomi makin dominan. Ruang bermain sebagai ruang kreatif anak dalam proses interaksi sosial dan kultural dalam kehidupan nyata sudah tidak natural. Budaya televisi telah memasuki memori kolektif anak. dan berdampak menyeragamkan kreativitas. Tontonan TV menjadi panutan anak, 'idola' dan 'pengganti pengasuh orang tua' dalam pendidikan anak, juga menggantikan ruang bermain yang tidak mendekatkan anak terhadap alam sekitar. Secara psikologis, membuat anak berjarak dengan realitas.

Wayang dengan banyak ragamnya, salah satu seni tradisional nusantara, yang sangat populer bagi masyarakat Jawa hingga kini dan juga local genius Kota Solo, meski telah diakui sebagai pusaka dunia (world heritage) oleh UNESCO sejak 2003 – sudahkah mencapai esensinya sebagai sumber mata air tradisi dalam kreativitas berkesenian di mata anak-anak? Menurut Heri Hono, perupa kontemporer Indonesia, wayang adalah kartun atau bentuk sederhana dari film kartun. Walaupun wayang sudah akrab dengan masyarakat Jawa melalui radio dan televisi, tapi masih banyak anak-anak masa kini mayoritas masih menyukai tokoh-tokoh hero impor – superman, batman, spiderman dan kartun Jepang yang menjadi idola. Misalnya, Gatotkoco masih kalah dengan mereka, belum jadi idola anak-anak Indonesia. Apakah kita terus menunggu bangsa lain yang terus menggali kekayaan local genius nusantara?

Oleh karena itu, penting diadakan pentas Wayang Lintang Johar, pentas anak-anak dalam ekspresi pertunjukan wayang kulit dan wayang bocah di ruang-ruang publik kota Solo tiap bulan sekali minggu kliwonan (Februari - Desember 2008). Di sini mereka langsung bersentuhan dengan realitas publik kota untuk mengundang publik apakah mereka masih setia menjadi masyarakat pendukung seni wayang yang bisa mendorong lahirnya kreator-kreator wayang masa depan. Ataukah anak-anak kreator wayang ini akan memasuki jalan sunyi di masa depan? Kata 'lintang johar' disini bermakna dari dalang bocah akan lahir dalang masa depan yang membangun dan mencipta tradisi – kata mencipta dan membangun tersebut mengkristal menjadi 'melestarikan'. Artinya, mereka mampu berproses, berkreativitas, dan melestarikan wayang sesuai dengan perubahan zamannya dengan bertumpu pada akar local genius-nya. Dengan demikian mereka di masa depan akan mampu memasuki dialektik kebudayaan yang memahami tanda-tanda perubahan zaman. Jadi dalam Wayang Lintang Johar ini berharap akan lahir bintang kecil tradisi, kreator wayang masa depan yang lintas-batas. Anak-anak adalah masa depan sumber mata air tradisi!

B. Tujuan

Membangun dan mengembangkan otoritas imajiner kreativitas anak.
Sebagai pendidikan informal untuk berproses, berkreativitas, dan melestarikan wayang sesuai dengan perubahan zamannya dengan bertumpu pada akar local genius-nya.
Mendekatkan anak pada kekayaan tradisi dan pusaka budaya nusantara sebagai sebagai sumber kreativitas.

C. Waktu & Tempat

16 Februari 2008.Pk 19.00 Wib di City Walk Depan Taman Sriwedari
22 Maret 2008.Pk 19.00 Wib di Halaman Pasar Nusukan
26 April 2008. Pk. 19.00 Wib Di halaman Kantor Solopos
31 Mei 2008.Pk 19.00 Wib Di City Walk, Depan Solo Grand Mall
5 Juli 2008 Pk. 19.00 Wib Di Kampung Batik Kauman
9 Agustus 2008. 19.00 Wib Di Pasar Gede
13 September 2008 .19.00 Wib Di Dusun Manahan,Jl. Menteri Supeno 20
18 Oktober 2008.19.00 Wib Di City Walk Depan Loji Gandrung
22 November 2008.19.00 Wib Di Kampung Batik Baluwarti
27 Desember 2008.19.00 Wib. Di City Walk Taman Sriwedari

E. Profil Dalang Bocah (penampil tgl 16 Februari):

●ADAM GIFARI
Dilahirkan di Surakarta 13 September 1999, putra dari Bapak H. Rhoma Irama dengan Ibu Gita Andhini Saputri. Belajar mendalang semenjak usia 3,5 tahun di Sanggar Seni Sarotama. Saat ini duduk di bangku kelas 2 SD al-firdaus Surakarta. Tokoh idolanya: Sunan Kalijaga. Tercatat pentas dalang sudah 34 kali. Kamis, 5 April 2007 Juara II Lomba Pidato Bahasa Jawa se-Kotamadya Surakarta dalam rangka Maulud Nabi yang diselenggarakan Depag Surakarta. Pengalaman mendalang keliling Jawa: Tahun 2005 pentas Wayang Kancil: Jogja, Salatiga, Surabaya, Jakarta. Tahun 2005 pentas ekshibisi Lomba Dalang Cilik se-Karesidenan Surakarta di Wonogiri. Tahun 2006 pentas ekshibisi Dalang Cilik se-Kota Surakarta di Joglo Sriwedari. Tahun 2007 pentas Duet 2 Kelir 2 dalang: Pati, Malang, Wonogiri, Purwokerto. Tahun 2007 pentas dalang bocah dalam Festival Budaya Jawa Tengah di RRI Semarang. Tahun 2007 sebagai pendukung kolaborasi wayang anak sebagai tokoh Guwarso dalam rangka Indonesia Performance Art Mart di ISI Surakarta sebagai tokoh Guwarso. Pentas Wungonan Gubernur Jawa Tengah di Rumah Dinas Puri Gedeh Semarang, pentas dalang bocah pada acara Expo dan Bazar 35 tahun perjalanan MTA Surakarta, Juli 2007.

●ANGGIT LARAS PRABOWO
Dilahirkan di Karanganyar, 2 Maret 2000 adalah putra bungsu dari keluarga Bapak Purwadi, Kepala Desa Tunggulrejo Jumantono, Matesi, Karanganyar. Saat ini duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Tunggulrejo kelas 2. semenjak usia 5 tahun mulai mencintai dan senang menonton wayang kulit. Berawal dari menonton kemudian ada minat menjadi dalang. Kemudian terus tekun berlatih menirukan dalang-dalang seperti Ki Manteb Soedarsono, Ki Entus, Bayu Aji melalui VCD maupun pertunjukkan secara langsung. Dan kemudian dibina oleh seorang dalang bernama Ki Waluyo Wignyocarito dari Matesih, Karanganyar. Awal tahun 2007 dititipkan di Padepokan Seni Sarotama sampai sekarang. Pengalaman mendalang sudah terhitung 24 kali, yang terakhir mengikuti pentas dalang dalam rangka Festival Budaya Jawa Tengah di RRI Semarang 30 Mei 2007 dan Pentas Wungonan Gubernur Jawa Tengah di Rumah Dinas Puri Gedeh Semarang.

F. Penyelenggara:

Matataya arts&heritage bekerja sama dengan Taman Budaya Surakarta dan Padepokan Seni Sarotama.