FC2ブログ
 
子供の巡回ワヤン2
今年2月から12月にかけて、「クリウォンの日曜」の前夜に、子供によるワヤン(影絵)の巡回公演がソロ市内各所であります。

Press release:

WAYANG LINTANG JOHAR 2
Pentas Keliling Dalang Bocah Malam Minggu Kliwon
Februari – Desember 2008
anak-anak: masa depan sumber mata air tradisi


Menindaklanjuti pentas keliling dalang bocah yang kedua, dalang bocah bernama Yoga Magistra Utama akan menampilkan lakon Geger Mandura pada 22 Maret 2008, bertempat di Pasar Nusukan, Solo, pk. 19.00 wib.

Profil Dalang
Yoga Magistra Utama. Anak ketiga dari Ibu Eny Budi Kuswariati dan Prof. Dr. Waridi, S.Kar.,M.Hum, lahir pada 20 Maret 1998 di Karanganyar. Anak yang sukan mendalang, menari dan bermain gamelan saat ini masih tercatat sebagai siswa kelas 4 di SD Muhammadiyah I Ketelan, Surakarta. Ia juga pernah main Wayang Orang Anak-anak di Gedung Wayang Orang Sriwedari pada 2005 dengan lakon Srikandhi-Mustakaweni dan peran yang pernah dimainkannya adalah tokoh Gareng. Sudah empat kali dia mementaskan wayang kulit lakon 'Guwarso-Guwarsi'. Pentas keliling dalang cilik se-Jawa: Pati, Wonogiri, Malang, Purwokerto. Pendukung Indonesia Perfformance Art Mart (OPAM) di ISI Surakarta (2007) sebagai tokoh Gareng, pentas dalang bocah pada acara Expo dan Bazar 35 tahun perjalanan MTA Surakarta (Juli 2007).

Sinopsis Geger Mandura
Kemelut negara Mandura tak kunjung reda, disebabkan tingkah anak angkat sang raja bernama Kongsodewo yang berambisi ingin menggantikan tahta Kerajaan Mandura. Oleh karena itu tidak sedikit dari anak Prabu Basudewa menjadi korban pembunuhan. Melihat hal itu atas inisiatif sang Prabu Basudewa, Raden Kakrasana, Narayana dan Bratajaya kemudian diasingkan ke Desa Widarakandang. Namun demikian keberadaan ketiga anak tersebut telah diketahui oleh Kongso. Kemudian usaha untuk membunuh ketiga anak Basudewa tersebut, Kongso menggunakan cara mengadakan adu jago manusia, antara Mandura dan Kadipaten Sengkapura. Berkat kesatuan dan ketulusan hati demi memayu hayuning bawana dan atas rahmat Allah swt, putra Mandura berhasil mengurungkan niat jahat Kongsodewa dan berakhir dengan kematiannya.

A. Latar Depan Wayang Lintang Johar
Kuo Pao Kun (2001), tokoh teater modern Singapura, mengatakan anda cukup beruntung menjadi bangsa Indonesia, bisa meminum begitu banyak sumber mata air tradisi di Indonesia. Ungkapan Pau Kun tersebut cukup releven jika kita menengok bagaimana eksistensi seni tradisi bagi anak-anak di perkotaan, khususnya Kota Solo. Ruang-ruang publik kultural sebagai ruang bermain di perkotaan makin menyempit dan nyaris punah, hanya ruang ekonomi makin dominan. Ruang bermain sebagai ruang kreatif anak dalam proses interaksi sosial dan kultural dalam kehidupan nyata sudah tidak natural. Budaya televisi telah memasuki memori kolektif anak. dan berdampak menyeragamkan kreativitas. Tontonan TV menjadi panutan anak, 'idola' dan 'pengganti pengasuh orang tua' dalam pendidikan anak, juga menggantikan ruang bermain yang tidak mendekatkan anak terhadap alam sekitar. Secara psikologis, membuat anak berjarak dengan realitas.

Wayang dengan banyak ragamnya, salah satu seni tradisional nusantara, yang sangat populer bagi masyarakat Jawa hingga kini dan juga local genius Kota Solo, meski telah diakui sebagai pusaka dunia (world heritage) oleh UNESCO sejak 2003 – sudahkah mencapai esensinya sebagai sumber mata air tradisi dalam kreativitas berkesenian di mata anak-anak? Menurut Heri Hono, perupa kontemporer Indonesia, wayang adalah kartun atau bentuk sederhana dari film kartun. Walaupun wayang sudah akrab dengan masyarakat Jawa melalui radio dan televisi, tapi masih banyak anak-anak masa kini mayoritas masih menyukai tokoh-tokoh hero impor – superman, batman, spiderman dan kartun Jepang yang menjadi idola. Misalnya, Gatotkoco masih kalah dengan mereka, belum jadi idola anak-anak Indonesia. Apakah kita terus menunggu bangsa lain yang terus menggali kekayaan local genius nusantara?

Oleh karena itu, penting diadakan pentas Wayang Lintang Johar, pentas anak-anak dalam ekspresi pertunjukan wayang kulit dan wayang bocah di ruang-ruang publik kota Solo tiap bulan sekali minggu kliwonan (Februari - Desember 2008). Di sini mereka langsung bersentuhan dengan realitas publik kota untuk mengundang publik apakah mereka masih setia menjadi masyarakat pendukung seni wayang yang bisa mendorong lahirnya kreator-kreator wayang masa depan. Ataukah anak-anak kreator wayang ini akan memasuki jalan sunyi di masa depan? Kata 'lintang johar' disini bermakna dari dalang bocah akan lahir dalang masa depan yang membangun dan mencipta tradisi – kata mencipta dan membangun tersebut mengkristal menjadi 'melestarikan'. Artinya, mereka mampu berproses, berkreativitas, dan melestarikan wayang sesuai dengan perubahan zamannya dengan bertumpu pada akar local genius-nya. Dengan demikian mereka di masa depan akan mampu memasuki dialektik kebudayaan yang memahami tanda-tanda perubahan zaman. Jadi dalam Wayang Lintang Johar ini berharap akan lahir bintang kecil tradisi, kreator wayang masa depan yang lintas-batas. Anak-anak adalah masa depan sumber mata air tradisi!

B. Tujuan
Membangun dan mengembangkan otoritas imajiner kreativitas anak.
Sebagai pendidikan informal untuk berproses, berkreativitas, dan melestarikan wayang sesuai dengan perubahan zamannya dengan bertumpu pada akar local genius-nya.
Mendekatkan anak pada kekayaan tradisi dan pusaka budaya nusantara sebagai sebagai sumber kreativitas.

C. Waktu & Tempat
16 Februari 2008.Pk 19.00 Wib di City Walk Depan Taman Sriwedari
22 Maret 2008.Pk 19.00 Wib di Halaman Pasar Nusukan
26 April 2008. Pk. 19.00 Wib Di halaman Kantor Solopos
31 Mei 2008.Pk 19.00 Wib Di City Walk, Depan Solo Grand Mall
5 Juli 2008 Pk. 19.00 Wib Di Kampung Batik Kauman
9 Agustus 2008. 19.00 Wib Di Pasar Gede
13 September 2008 .19.00 Wib Di Dusun Manahan,Jl. Menteri Supeno 20
18 Oktober 2008.19.00 Wib Di City Walk Depan Loji Gandrung
22 November 2008.19.00 Wib Di Kampung Batik Baluwarti
27 Desember 2008.19.00 Wib. Di City Walk Taman Sriwedari

F. Penyelenggara:
Matataya arts&heritage bekerja sama dengan Taman Budaya Surakarta dan Padepokan Seni Sarotama.