FC2ブログ
 
スアラ・プンバルアン紙で名前が言及
インドネシアのスアラ・プンバルアン紙(ジャカルタ)に2008年7月4日掲載された記事
"Sulistyo Tirtokusumo -Menanti Gerak Diam Selanjutnya"の中で、私のことが言及されています。
sulis suara pembaruan 04rodasu

該当箇所の日本語訳は次の通り。

このように、スリスティヨはこの2年間ほとんど踊っていない。…(中略)…

舞踊活動について聞かれると、氏はただため息をつくだけである。ジャワ舞踊に強い関心を持つ者はもはやいいない。この3年間、氏は本当にブドヨを学びたい1人の舞踊家に特別にレッスンをしていた。残念なことに、それはインドネシア人ではない。「冨岡三智という日本人で、ブドヨについて博士課程で勉強している人です。彼女は私たちからしつこく学び取ろうとした。最初は私も断りましたが、三智も譲らなかった。どんなに厳しいレッスンをしても、彼女は本当についてきた。」と語る。

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/07/04/Personal/per01.htm
全文は以下
Sulistyo Tirtokusumo
Menanti Gerak Diam Selanjutnya


Puncak dari segala gerak itu diam. Itu pesan singkat dari Sulistyo Tirtokusumo kepada SP beberapa waktu lalu. Aneh-aneh saja. Apalagi pesan itu dilontarkan penari alusan terbaik di negeri ini. Logika sederhana, tarian adalah gerakan.

Gerakan kaki, tangan, pinggang, bagian tubuh lainnya, termasuk helaan napas bahkan lirikan mata, adalah sesuatu yang harus ada dalam gerak tari. Itu logika yang menurut Sulistyo harus dipertanyakan ulang. Ada apa dengan Sulistyo?

Saat didatangi di ruang kerjanya di Jakarta, Rabu (2/6), ia kembali mengulangi pesan pendeknya itu. "Lho, itu pendapat saya sebagai penari, Jika ada penari atau pengamat tari lain mempunyai pendapat lain, monggo, supaya dialog kita soal apa itu tari, dan yang lebih penting lagi bagaimana mengembangkan dunia tari tradisional kita, tetap hidup. Bahwa saya sudah tidak mau banyak berkata lagi soal dunia tari, itu persoalan lain," kata Sulistyo.

Tambah terdengar aneh saja kalimat-kalimatnya. Tapi yang pasti, jagat tari di Indonesia, terutama tari alusan, jelas tidak bisa menghapus namanya. Namanya sempat menggegerkan jagat tari Indonesia saat mementaskan tari tanpa judul yang belakangan disebut Tari Diam. Pentas di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada 1987 itu untuk pertama kalinya mengetengahkan konsep diam Sulistyo.

Dalam pentas itu, menurut reportase media massa, yang diakui oleh Sulistyo sendiri, jelas minim gerak. Jadi, tidak 100 persen diam. Reaksi penonton dan dunia tari saat itu luar biasa. Pertanyaan sekaligus kritik tajam menerpanya.

Sulistyo tidak menjawab kritik itu dengan kata-kata. Apalagi membuat konferensi pers seperti kebiasaan para politisi. Setahun kemudian, sebagai seorang koreografer yang kreatif ia mementaskan ulang karyanya dengan berbagai perubahan.

Penggemar tari Jawa kembali bereaksi. Dari mulai yang memuji, memaki, dan tentu saja yang kebingungan. Semuanya bisa dimengerti. Dari sisi acara saja, Sulistyo membuat sesuatu yang tidak lazim. Penonton kebingungan karena tidak tahu kapan akhir dari pentasnya.

Pada satu titik tertentu, lampu ruangan kembali menyala, pintu keluar untuk penonton terbuka lebar. Lampu ruangan kembali dinyalakan. Tapi gending Jawa terus ditabuh dan semua penari terus menari. Sulistyo yang memerankan Arjuna pada pentas itu, bersila diam. Kepalanya terkulai.

Pentas baru benar-benar berhenti saat Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia saat itu, Paul Wolfowitz, maju ke atas panggung memberikan bunga kepada Sulistyo.

"Tari yang mengetengahkan kisah perang antara Arjuna dan Karna itu hasil perenungan saya tentang tari dan makna dari tarian itu sendiri," kata pria yang belajar tari sejak usia 6 tahun.

Karya-karya pria kelahiran Solo, 6 Juli 1953 itu, hingga kini terus menjadi bahan diskusi dan kajian para peminat tari, khususnya tari Jawa. Beberapa komunitas seni sempat pula mendaur ulang karya Sulistyo. Salah satunya ialah pentas Panji Sepuh oleh Komunitas Utan Kayu yang mencekam penonton Festival Pembukaan Museum Nasional Singapura pada 2006.

Keliling Dunia

Begitulah Sulistyo yang sudah dua tahun ini nyaris tidak pernah menari. Dia tidak lagi menciptakan suatu karya tari baru. "Terus terang saya kangen untuk menari. Tapi tubuh saya sudah gemuk. Banyak lemaknya. Berat badan saya sekarang sekitar 77 kg. Dulu saat akif menari berat badan tidak pernah mencapai 63 kg," ia menjelaskan.

Saat ditanya soal kegiatan mengajar tari, ia hanya menarik napas panjang. Tidak ada lagi yang punya minat kuat pada tari Jawa. Tiga tahun terakhir ia masih memberikan latihan khusus kepada seorang penari yang benar-benar ingin belajar tari Bedhaya. Yang menyedihkan, dia bukan orang Indonesia. "Namanya Michi Tomioka dari Jepang, yang tengah menyelesaikan studi doktornya tentang tari Bedhaya. Ia ngotot ingin menimba ilmu dari kita. Mulanya saya menolak, tapi Michi memang pantang menyerah. Sekeras apa pun bentuk latihan yang saya berikan ia ikuti dengan sungguh-sungguh," ujarnya.

Matanya menerawang ke atas. Mungkin ia kembali ingat kejadian penting dalam hidupnya saat ikut tes untuk menjadi penari dalam sendratari Ramayana. Waktu itu usianya belum genap 16 tahun. Saat menyaksikan kehebatan penari dari Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur, ia merasa rendah diri. Ia sempat kabur. Tapi, guru tarinya berhasil menemukannya.

Jadilah ia kembali mengikuti seleksi itu, dan menang. Sejak itu, dan lebih dari 20 tahun kemudian, ia menjadi pemeran lakon Rama dalam sendratari Ramayana. Bersama teman-temannya ia terus menari di Istana Negara, Taman Mini Indonesia Indah, dan tempat-tempat lainnya. Kemampuannya menari dan menciptakan tarian, mengantarnya keliling dunia.

Hidup sebagai penari jelas tidak mampu menjamin kehidupan rumah tangganya bersama Dewi Gukrasani. Maka seusai menjadi sekretaris pribadi Duta Besar Indonesia di Vatikan, Soenarso Wongsonegoro, ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, hingga kini departemen itu berubah nama menjadi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. "Saya bekerja di bawah Pak Joop Ave, yang saat itu menjadi Direktur Jenderal Pariwisata," ia menambahkan.

Minim Minat

Alur kehidupannya, rupanya, mirip gerak tari ciptaannya. Sering tidak terduga. Awal 2006, ia diberi kepercayaan sebagai Direktur Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Departeman Kebudayaan dan Pariwisata. Sebagai pegawai negeri, ia tidak bisa mengelak dan harus siap ditempatkan di mana saja.

Rasa ragu sempat melintas dalam pikirannya. Pertama, karena ia bukan seorang penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

"Jujur saja, sebagai Muslim saya tidak tahu banyak soal para penghayat. Lagi pula saya sempat menduga para penghayat itu tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang selalu sibuk dengan urusan mistik. Saya ternyata salah," tuturnya.

Berkat nasihat Sri Hastanto yang saat itu menjadi Direktur Jenderal Nilai, Seni, dan Budaya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan pergaulannya dengan para penghayat, ia bisa merasakan penderitaan para penghayat yang sudah puluhan tahun mendapat perlakuan diskriminasi dari negara. Bersama beberapa penghayat, dan semangat pegawainya, serta dukungan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, ia menjalin kerja sama dengan Departemen Dalam Negeri menyusun aturan untuk memberikan perlindungan bagi para penghayat. Hasilnya adalah Undang Undang Administrasi Kependudukan No 23/2006 dan Peraturan Pemerintah No 37/2007 tentang Pelaksanaan UU No 23/2006.

Peraturan itulah yang memberi payung tegas bagi para penghayat dalam pengisian kolom agama di kartu tanda penduduk dan melaksanakan perkawinan. "Para pejabat di daerah yang selama ini sering menghambat pengurusan KTP dan perkawinan para penghayat sekarang sudah semakin terbuka. Mereka mulai mengakui bahwa para penghayat itu juga adalah warga negara Indonesia. Perjuangan untuk para penghayat jelas masih panjang. Mereka belum bisa menjadi anggota TNI dan Polri karena keyakinan mereka. Sudah menjadi tugas saya untuk melayani para penghayat yang selama ini terpinggirkan," tambahnya.

Masih mau menari? Dan apa pandangannya tentang minimnya minat generasi muda terhadap budaya tradisional? Atas pertanyaan yang diajukan kepadanya dalam berbagai kesempatan itu, Sulistyo menjawab pelan. "Saya masih kangen menari. Tapi itu sudah tidak mungkin. Saya mau bekerja untuk para penghayat saja sekarang. Air mata saya sudah kering jika ditanya soal minimnya minat generasi muda pada budaya sendiri," ia menambahkan.

Sulistyo berdiri dari kursinya perlahan. Sepelan geraknya saat menarik busur dan anak panah maya saat menarikan tari Panji Sepuh di Teater Oncor Jakarta puluhan tahun lalu. Juga saat ia diminta Goenawan Mohamad untuk tampil lagi di Museun Nasional Singapura pada 2006. "Kok tiba-tiba saya ingat Pak RM Wignyohambegso dan Pak RT Kusumo Kesowo, guru tari saya," ia berbisik. [SP/Aa Sudirman]



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 4/7/08