FC2ブログ
 
新聞報道 inインドネシア on島根…
「島根・インドネシア 現代に生きる伝統芸能の交流」について、
インドネシアの新聞に記事が掲載されました。

(1) 2008年8月21日 Kompas紙 Jawa Tengah(中部ジャワ)面
Jiwa Seni Jawa Mirip Seni Jepang
sejumlah Seniman Berangkat ke Jepang

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/21/1833271/jiwa.seni.jawa.mirip.seni.jepang.
kompas島根

(2) 2008年8月21日 Jawa Pos紙 Radar Solo1面+7面
Orang Jepang Belajar dan Polulerpan Tari Klasik Solo, Nggak Salah, tuh?
Termotivasi Karena Seni Tradisi Jepang Mahal Harganya

http://jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=21490


(3) 2008年8月21日 Joglo Semar紙 panggung(公演)面
Solo BErtular Budaya dengan Jepang


(1)
Jiwa Seni Jawa Mirip Seni Jepang
Sejumlah Seniman Berangkat ke Jepang
Kamis, 21 Agustus 2008 | 18:33 WIB


SOLO, KOMPAS - Seni tradisi Jawa ternyata memiliki kemiripan dengan seni tradisi Jepang, terutama dalam hal jiwa seninya. Atas dasar ini, Pasar Mangetsu Kaigan yang merupakan organisasi kultural yang berbasis di wilayah Shimane, Jepang, bekerja sama dengan Mataya Arts & Heritage Solo, menggelar program "Shimane-Indonesia Exchange of Traditional Arts" tanggal 2-8 September 2008 mendatang.

Rencananya, dalam program ini Mataya Arts & Heritage Solo akan mengirimkan sejumlah pekerja seni untuk berangkat ke Jepang, yakni Heru Prasetya, Agung Priyo Wibowo, Bambang Suryono, Fajar Satriadi, dan Dani Iswardana Wibowo.

Kepada pers, Rabu (20/8), Koordinator Program Shimane-Indonesia Exchange of Traditional Arts, Michi Tomiaka menyatakan, kehadiran Mataya Arts & Heritage Solo di Shimane membawa sejumlah misi. Misi riset

Misi pertama, untuk meriset manajemen seni Pasar Mangetsu Kaigan dan Sanggar "Okazaki Syachu" yang merupakan sanggar bersejarah 300 tahun dan paling lama di Shimane. Sanggar ini menjalankan seni teater tradisi Jepang yang dikenal dengan sebutan "Kagura". Kegiatan riset ini akan dilakukan Heru Prasetya dan Agung PW.

Misi lainnya adalah pentas di Kozu-Jinjatempat ibadah agama Shintodi Osaka pada tanggal 2 September 2008, yang akan dibawakan penari Fajar Satria dan Bambang Suryono, serta Michi Tomioka.

Selain itu, Fajar dan Bambang juga akan memberikan lokakarya tari klasik Jawa, dan pentas kolaborasi dengan seni tradisi Kagura dari Sanggar Okazaki Syachu tanggal 4-7 September 2008. Pentas kolaborasi ini lewat lakon "Yamata no Orochi" yang berarti naga berkepala delapan.

Pelukis wayang beber, Dani Iswardana, juga akan memberikan lokakarya, pameran, dan pentas wayang beber di Pasar Mangetsu Kaigan.

"Seni tradisi di Shimane memiliki kemiripan dengan seni tradisi Jawa. Bulan Juni lalu, saya mencoba tampil berkolaborasi dengan mereka lewat tarian Jawa, ternyata mereka menyadari kalau seni tradisi Jawa dan Shimane ada kemiripan," ujar Michi, yang juga penari, koreografer, dan peneliti tari Jawa yang tinggal di Solo sekitar 10 tahun lebih. Manajemen seni

Michi berharap, dengan adanya program pertukaran seni tradisi ini, pekerja seni dari Mataya Arts & Heritage Solo bisa mempelajari tentang manajemen seni tradisi di Shimane.

"Program ini sangat menarik karena kita ingin melihat lebih jauh bagaimana Shimane memelihara kesenian tradisi yang memang luar biasa. Saya pikir persoalan di Solo hampir sama. Karena itu, kami ingin melihat seperti managemen seni tradisi di sana," ujar Ketua Umum Mataya Arts & Heritage, Heru Prasetya.

Menurut Michi, Shimane adalah salah satu daerah di sebelah utara Osaka. Daerah ini merupakan tempat lahirnya teknologi yang paling canggih pada zaman kuno. Banyak gong kuningan dan senjata besi ditemukan di makam raja di daerah ini. Nenek moyang kerajaan Shimane tidak kalah dengan kerajaan kekaisaran Jepang. (SON)


(2) Radar Solo
[ Kamis, 21 Agustus 2008 ]
Orang Jepang Belajar dan Polulerkan Tari Klasik Solo, Nggak Salah Tuh?
Termotivasi karena Seni Tradisi Jepang Mahal Harganya


Makin banyak orang asing yang menyukai kebudayaan Jawa. Bahkan yang satu ini, begitu mahir menguasai dua tari Jawa klasik yang diminati sedikit orang.

RIKA IRAWATI, Solo

MENDENGAR namanya, orang akan langsung tahu jika wanita 42 tahun ini berasal dari Jepang. Michi Tomioka, adalah salah satu dari sederet warga asing yang >getol< belajar kesenian Jawa. Bermula dari perhitungan matematis yang dirasa murah dibanding belajar kebudayaan tradisional Jepang sendiri, Michi pun memilih mendalami tarian Jawa Klasik.

Saat ditemui di Gapura Seni Sriwedari kemarin (20/8), Michi mengaku mahir menarikan 10 macam tari Srimpi dan 2 Bedhaya, yang semuanya dipelajari dalam bentuk asli dan berdurasi panjang. Anak pertama dari pasangan Takao Tomioka dan Masako Tomioka mengatakan perkenalannya dengan seni Jawa terjadi saat ia menjadi mahasiswa S1 Fakultas Sastra Osaka University, Jepang.

Saat itu dirinya tertarik bergabung dengan sebuah Sanggar Gamelan Darmabudaya yang ada di kampus. Lantaran seni Asia, terutama kesenian asal Indonesia, begitu diminati kaum muda Jepang. Di sini lah Michi berkenalan juga dengan berbagai tarian Klasik asal Jawa, khususnya Solo. "Akhirnya saya bertekad datang langsung ke Indonesia untuk belajar tari Jawa. Saya benar-benar merasa nyaman menari tarian Jawa Klasik," ungkapnya dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Kedatangannya yang pertama di Solo tahun 1989 awalnya sekedar survei. Selain Solo, saat itu dirinya juga mengunjungi Jogjakarta dan Bali. Namun, Michi telanjur cinta Solo dan kebudayaannya. Bukan hanya latar belakang kota yang hampir sama dengan beberapa wilayah di Jepang, gadis asal Nara --ibu kota Jepang yang pertama-- ini mengaku mudah beradaptasi dengan orang-orang di Solo. Dengan mudah, dirinya mendapat pelajaran tari dari berbagai guru.

Meski hanya 2 pekan, dirinya bertekad untuk kembali ke Solo. Hal tersebut baru terwujud berturut-turut tahun 1992, 1994, dan 1995. Setelah menjadi sarjana di Osaka University, Michi memutuskan belajar kesenian di Solo, tepatnya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI, yang kini bernama Institut Seni Indonesia).

Meski belajar gamelan dan kesenian Jawa lainnya, Michi mulai sungguh-sungguh belajar tari Jawa klasik. Bahkan, dirinya sempat mempelajari tari-tari tersebut di Keraton Kasunanan Solo. "Saya belajar tari Srimpi dan Bedhaya dengan (almarhum) Ibu Sri Sutjiati Djoko Soeharjo. Dulu guru seni tari di SMKI," terang Michi.

Selain Sri Sutjiati, Michi juga belajar tari Srimpi dan Bedhaya dengan Sulistyo Tirtokusumo, salah satu penari Jawa sekaligus koreografer tari kenamaan di Indonesia. Selain itu Michi mengatakan berlatih ilmu pula dari S Mariadi dan S Pamardi.

Lantas, apa sebenarnya yang mendorong Micni mendalami Srimpi dan Bedhaya? Wanita yang tengah menyelesaikan kuliah S3 di Osaka City University ini mengaku menemukan jati diri saat menarikan kedua tarian itu. Dirinya dapat mengosongkan diri dan memberikan gerakan terbaik sesuai intuisi tanpa ada rasa penyombongan diri.

Ini pulalah yang membuatnya tidak belajar berbagai tari Bali, yang marak dipelajari masyarakat umum di Jepang. "Karena kedua tari ini gerakannya sangat lembut dan pelan. Jadi, lebih mediatif dan saat menarikan kita merasakan benar-benar menjadi diri sendiri. Selain itu, nuansa wingit (sakral) yang diciptakan benar-benar alami. Ini yang menarik," ungkap wanita, yang juga menjadi guru privat bahasa Indonesia bagi pegawai di perusahaan-perusahaan Jepang ini.

Sebenarnya, Michi menyebut gerakan tari Jawa klasik hampir serupa dengan kesenian tradisional di Jepang. Seperti, Noh (teater musical tertua di Jepang) dan Kagura (pertunjukan musik dan tari sakral Jepang).

Namun, mahalnya biaya untuk belajar dua kesenian tradisional itu membuat Michi memilih tarian Jawa. "Belajar Noh itu biayanya mahal. Kalau Kagura sulit menembus kelompoknya, karena kesenian ini hanya dimainkan keluarga tertentu. Biasanya hanya dimainkan di kuil Budha," paparnya.

Ketertarikannya mendalami Srimpi dan Bedhaya pun diwujudkan dalam bentuk merekam tarian tersebut. Saat ini, Michi mengaku dari 10 jenis Srimpi yang dikuasai, dia telah merekam 4 diantaranya, Srimpi Lobong, Srimpi Gondokusumo, Srimpi Gambir Sawit, dan Srimpi Sukarsih.

Sementara pendalaman Bedhaya juga dilakukan dengan penelitian untuk disertasinya memperoleh gelar doctor. "Semua saya lakukan agar dari hasil ini (rekaman dan disertasi), orang dapat meneruskan belajar tari yang tahun 70-an lalu hampir punah," ungkapnya.

Meski bukan asli Solo, Michi pun berharap dapat mementaskan kedua tari Jawa ini ke berbagai negara di dunia. Pasalnya, selama ini dirinya hanya dapat menunjukkan kemampuannya menari hanya di pementasan-pementasan yang memang diprakarsainya. "Tidak masalah kalau saya, orang Jepang, mempopulerkan tari Jawa ini. Karena semuanya demi kelestarian tari Jawa," ujarnya.

Salah satu cara yang dilakukan Michi untuk memperkenalkan kesenian Jawa lainnya adalah memboyong personel Mataya Art and Heritage tampil di Shimane, Jepang, 2-8 September mendatang.

Dalam program Shimane-Indonesia Exchange of Traditional Arts ini personil Mataya akan didapuk untuk menampilkan beberapa kesenian tradisional Jawa. Namun, mereka juga akan berkolaborasi dengan seniman di Shimane untuk tampil dalam pertunjukan Yamato No Orochi. (tej)