FC2ブログ
 
8月21日スアラ・プンバルアン紙にインタビュー掲載
スアラ・プンバルアン紙(ジャカルタ)に私のインタビュー記事が掲載されました。
昨年のジャカルタ公演の後にも取り上げていただき、この2年間で何度か受けた
インタビューをまとめて書かれています。
残念なのは私の名前が間違ってMichi Tomiakaとなっているために、google等で
検索すると出てこないこと。インドネシア人にはaとoの区別がつきにくいようで、
音が間違えられることは多いのですが…。

記事→ http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/21/Personal/pers01.htm

参考:1年前(2007年8月29日)の記事↓
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/08/27/Hiburan/hib01.htm


SUARA PEMBARUAN DAILY / Kamis,21 Agustus 2008
Michi Tomiaka "Wong" Solo Palsu


SP/Alex Suban 
suara pembaruan 2008
Michi Tomiaka (kiri) ketika tampil menarikan "Serimpi Gondokusumo" dalam pertunjukan di Teater Luwes, IKJ, 26 Agustus 2007.(2007年8月26日、ジャカルタ芸術大学ルウェス劇場にて、冨岡三智(左)が「スリンピ・ゴンドクスモ」を上演しているところ)


本文は以下
Nama saya Michi. Michi Tomiaka. Saya wong Solo yang antipoligami," kata Michi, saat berjumpa dua tahun lalu.

Michi jelas bercanda. Ia bukan orang Solo. Dari namanya mudah diterka, ia perempuan Jepang.

Tapi, Solo tak bisa dipisahkan dari perjalanan hidupnya. Solo, gamelan Jawa, dan tari Jawa, telah mengubah hidupnya, dari perempuan Jepang biasa, menjadi penari tari Jawa yang benar-benar mencintai tari Jawa. Putaran hidupnya sebagai warga negara Jepang seolah berhenti. Ia men-jadi Mbak Michi yang gemulai dalam keseharian. Anggun saat membawakan tari Serimpi.

Kisahnya bermula dari suara gamelan, yang terdengar hampir setiap sore saat ia melalui bagian samping kampusnya. Suara gamelan yang dimainkan beberapa mahasiswa Jepang itu menyambar telinganya. Suara yang asing bagi telinganya yang biasa mendengar jenis musik pop, rock, dan beragam jenis irama musik lainnya.

Ia penasaran. Kok lain? Lama-kelamaan, suara itu seolah mengikutinya. Seolah menyapa telinganya. Siang dan malam. Perempuan kelahiran kota tua, Nara, itu pun mendatangi ruang latihan, tempat teman- temannya tengah berlatih memainkan gong, bonang, saron, serta alat musik tradisional Jawa lainnya.

Ia mencoba memainkan bonang. Di titik itulah, hidupnya berubah. "Saya tidak terus berlatih gamelan. Saya malah tertarik pada tari Jawa yang hebat," tuturnya.

Budaya Jawa

Sejak pertama kali melihat gerakan penari Jawa di kampusnya, ia sudah memutuskan langkah. Ia harus menjadi penari Jawa sekaligus memahami apa itu budaya Jawa. Perempuan lajang itu berulang kali mengaku tidak bisa menjelaskan mengapa tertarik belajar menari.

Bukan sekadar belajar bergerak, tapi bisa menari. "Belajar menari dan menari itu berbeda, ya?" ujar Michi, sambil meminum teh tawar di kantin SP belum lama ini.

Berbicara dengan Michi mudah sekali muncul rasa kagum. Kesan ia punya semangat keras, terlihat jelas. Ke mana-mana membawa laptop berisi lagu-lagu dan gamelan Jawa. Di laptop-nya ada beberapa film pendek pentas tari Jawa. "Saya punya cuplikan pentas Panji Sepuh karya Sulistyo Tirtokusumo di Taman Budaya Solo tahun 1990. Lihat cara Mas Sulis (Sulistyo, Red) menari. Matang sekali, ya?" kata Michi, sambil memutar film dokumenter hitam putih pentas Panji Sepuh.

Sulistyo jelas tidak bisa dipisahkan dari kariernya sebagai penari. Sulistyo, sang penari Jawa ternama itu pula yang mematangkan gerak kaki, tangan, dan anggota tubuh Michi lainnya saat memberikan latihan.

Tidak jarang Michi agak memaksa Sulistyo memberinya latihan khusus tari Bedhaya dan Serimpi. "Kok tak ada orang Indonesia segigih Michi, ya? Pernah saya sedang bertamu di rumah Pak Iwan Tirta, dia datang dan minta latihan. Ya sudah, saya latih saja," ujar Sulistyo, saat dihubungi secara terpisah.

Sebelum belajar pada Sulistyo, Michi sempat menimba ilmu dari P Maridi. Setelah itu, ia berlatih tari Serimpi pada maestro tari Serimpi, Sri Sutjiati Djoko Soehardjo, pada 1996. Dari sang maestro yang penyabar itulah Michi banyak menimba ilmu. Pada tahun yang sama hingga 1998, ia menimba ilmu di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), yang sekarang menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kematangan geraknya sebagai penari Jawa kembali diasah saat ia kembali menjadi mahasiwi di ISI Surakarta tahun 2000 hingga 2003.

Bukan Seniman

Orangtua Michi bukan seniman. Mereka hanya penggemar seni. Tapi, rasa suka pada dunia seni mengantar Takao Tomioka dan Masako Tomioka, orangtua Michi, berhasil mengelola galeri seni lukis dan keramik di Nara lebih dari 40 tahun.

Dunia seni yang menyatu dengan urusan bisnis mendekatkan kedua orangtua Michi mampu membantu banyak seniman Nara berkegiatan.

Mungkin karena banyak berhubungan dengan para seniman sejak belia, Michi kecil punya kepekaan pada soal seni.

"Ya, kehidupan saya sejak kecil memang tidak lepas dari dunia seni. Jadi sejak kecil saya sudah tertarik pada dunia seni meskipun menjadi penari Jawa tidak pernah saya bayangkan sebelumnya," tambah Michi, yang pernah menjadi guru bahasa Indonesia dan sekarang masih tercatat sebagai guru matematika di sebuah sekolah menengah pertama di Jepang itu. Ia kini juga tengah menyelesaikan program doktornya di Osaka City University, dengan tema disertasi tari Jawa.

Begitulah Michi, yang sudah memperlihatkan penguasaannya akan tari Jawa di sejumlah kota di Indonesia dan berbagai pementasan di Jepang. Baginya, menarikan tari Jawa bukan soal bergerak di depan penonton. Baginya, proses latihan, persiapan pementasan, dan pentas itu sendiri, merupakan sebuah ritual. Ritual untuk menyelami kekayaan budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa di wilayah Solo.

Getaran suara gemelan di kampusnya, proses yang tidak sederhana untuk belajar bahasa Indonesia di Jepang, dan kegigihannya untuk belajar bahasa Jawa, mengantarnya menjadi pencinta budaya Jawa yang tangguh. Beranjak dari dialognya dengan seniman dan guru tarinya, ia sering merasa prihatin menyaksikan minimnya perhatian generasi muda Indonesia yang tidak tertarik budaya Indonesia.

"Saya jelas orang Jepang. Tapi, hati saya sering menjerit jika mendengar atau melihat pentas tari Jawa sepi penonton. Saya sering menangis jika melihat pentas tari Jawa dipadatkan dengan berbagai alasan. Pentas tari Jawa itu harus utuh, supaya penonton bukan hanya melihat tarian, tapi juga meresapi dan memahami makna dari sebuah tarian," papar Michi, yang menyelesaikan program masternya di jurusam Studies of Asian Culture and Urbanism, di Osaka City University.

Mempelajari Makna

Beranjak dari pemikiran itulah ia ngotot mementaskan tari Serimpi Gondokusomo di Institut Kesenian Jakarta tahun lalu. Sejak awal ia sudah berencana untuk mementaskan tari karya Paku Buwono VIII secara utuh.

"Saat itu keuangan saya pas-pasan. Tidak ada sponsor. Untung sekali saya bertemu Mas Bondan Winarno, yang tanpa banyak berkata memberi saya dana untuk pementasan di IKJ. Saya senang, akhirnya bisa mementaskan tari itu secara utuh selama sekitar 70 menit bersama teman- teman dari Solo," Michi mengenang.

Lalu, soal minimnya minat orang Indonesia mempelajari tarian tradisional Indonesia, Michi berterus terang tidak bisa berkata banyak.

"Sayang sekali jika tarian Jawa hilang, hanya karena tidak ada lagi yang serius belajar tari Jawa dan mempelajari makna di balik tari itu. Saya kan wong Solo palsu," candanya. [SP/Aa Sudirman]

Last modified: 20/8/08