FC2ブログ
 
6/26 Hmp公演評(コンパス紙)
2009年6月26日コンパス紙(中部ジャワ版)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/26/11082211/kolaborasi.jepang.dan.indonesia.

日本・インドネシアの共同制作
HMPシアター・カンパニーとテアートル・アヤット・インドネシアによる
「トラベラー」公演


日本女性5人、インドネシアの女性3人と男性2人が一列になって一緒に走る。すべてが混じり合い、ヒステリックな叫び声に溶けてゆく。あっという間に、この日本とインドネシアの10人は身に着けていた服を脱ぎ捨てる。

日本人女性5人は、黒い短ズボンと白いランニングシャツだけになり、インドネシアの女性は白い布を巻きつけており、男性は上半身裸になる。全員が1つに集まってひしめきあい、怯えながら、何かをじっと、声もなく見つめる。

これは「トラベラー」というタイトルの演劇の1シーンを抜き出してみたものだ。日本の大阪から来たHMPシアター・カンパニーと、ソロのテアートル・アヤット・インドネシアによるコラボレーションが、水曜(6月24日)夜に、ソロのドゥスン・マナハンと呼ばれるプンドポで上演された。この「トラベラー」という公演は、HMPシアター・カンパニーがソロに文化訪問して実現したもので、ジャワ舞踊を学ぶ日本女性の冨岡三智と、マタヤ・アート&ヘリテージがコーディネートしている。

「トラベラー」、すなわち旅人というものを通して、大阪の演出家である笠井友仁は、1人の人間が旅人となる情景をその場に生み出す。流刑地では、旅人は見る人であり自身が見られる人でもあるという、その境界に存在する。

いくつかの情景では、旅人が、ある次元から別の次元へと、たとえば日本からインドネシアへと、移る様を描いている。最初は、舞台の雰囲気は、あたかも主人口の旅人(高安美帆)が日本にいるかのようだ。長い黒色のコートと帽子を着て靴を履き、黒い鞄を持って、新聞を読んでバスや汽車を待っている。

真ん中のシーンで、旅人はインドネシアのとある街にいて、質問攻めのサービスをされるホテルに泊まり、クバヤ(ジャワの伝統衣装:訳者注)を着た女性が電車を押すのを見、田植えの祭りを見る。ダニス・スギヤントがリーダーを務めるジャワ音楽の伴奏が、次第に生き生きとしたものになる。

物語の最後で旅行者は捕えられ、収容所に入れられる。収容者は囲われ殺されるが、旅行者は収容所から抜け出す。

各シーンは足音で彩られ、旅行者と他の出演者たちはゆっくりと歩き、汽車の音が鳴り、バスに乗る。狐の嫁入りの描写は雰囲気を強めている。

旅行者のシーンのいくつかは楽しいもので、観客の笑いを誘う。たとえば、旅行者が新聞を読んでいる人を真似たり、雨のときにこっそり他人の傘に入り込んだり、収容所で服を脱いだりするときである。

初めての共演で練習も3日間だけであったが、大阪の芸術家とテアートル・アヤット・インドネシアのコラボレーションには惹きつけられた。友仁は、シーンや登場人物以外にも、日本とインドネシアでの「トラベラー」上演の違いはプンドポという空間にあると述べている。「通常はクローズドの劇場で上演するので、足音や呼吸の音がはっきりと聞こえます。」とのことだった。(文責:SONYA HELLEN SINOMBOR)

原文↓
Kolaborasi Jepang dan Indonesia
Hmp Theater Company dan Teater Ayat Indonesia Mementaskan "Traveler"


Lima perempuan Jepang, tiga perempuan, dan dua lelaki Indonesia, berlari bersama dalam satu barisan. Semuanya berbaur jadi satu dan larut dalam teriakan histeris. Dalam hitungan detik, ke-10 orang dari Jepang dan Indonesia ini menanggalkan pakaian luar yang dikenakan.

Hingga kelima perempuan Jepang hanya mengenakan celana pendek hitam dan kaus oblong putih, sedangkan perempuan Indonesia berbalut kain putih, dan laki-laki tinggal bertelanjang dada. Semua berkumpul jadi satu, berdesak-desakan, menatap ketakutan sesuatu di depannya dengan membisu.

Demikian petikan adegan pertunjukan teater berjudul "Traveler" yang diperankan kelompok teater dari Osaka, Jepang, yaitu Hmp Theater Company, yang berkolaborasi dengan seniman dari Solo yaitu Teater Ayat Indonesia, Rabu (24/6) malam, di sebuah pendopo, di Dusun Manahan, Kota Solo. Pentas "Traveler" ini merupakan bentuk dari kunjungan budaya Hmp Theater Company ke Solo. Kegiatan ini dikoordinasi Michi Tomioka-penari Jepang yang juga belajar tarian Jawa-dan Mataya Art & Heritage.

Lewat "Traveler", yang berarti orang yang bepergian, sutradara Osaka, Kasai Tomonori, mencoba menghadirkan suasana di mana seseorang menjadi pengembara atau petualang. Di tanah pengasingan, sang pengembara berada di antara orang yang menonton dan dirinya ditonton.

Berbagai adegan menggambarkan, bagaimana traveler yang pindah dari satu dimensi tempat atau waktu ke dimensi yang lain, seperti dari Jepang ke Indonesia.

Awalnya suasana di-setting seolah-olah sang pemeran utama traveler (Takayasi Miho) berada di Jepang. Berada di antara orang-orang yang berjas hitam panjang, topi, sepatu, dan tas hitam, membaca koran menunggu bus dan kereta api.

Di tengah adegan, sang traveler berada di sebuah kota di Indonesia, menginap di sebuah hotel dengan pelayan hotel yang banyak bertanya, menyaksikan perempuan berkebaya mendorong kereta api, serta menyaksikan pesta tanam padi. Dukungan musik karawitan pimpinan Danis Sugianto menjadikan pertunjukan makin hidup.

Cerita berakhir saat traveler ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Para tahanan terkurung dan dibunuh, tetapi sang traveler bisa lolos dari penjara.

Adegan-adegan diwarnai dengan tapak kaki, di mana sang traveler dan pendukung pemain lain melangkah dengan perlahan, bunyi suara kereta api, dan naik bus. Gambaran cuaca hujan dan panas ikut memperkuat suasananya.

Beberapa adegan kocak yang ditampilkan sang traveler, sempat mengundang tawa dari penonton, seperti saat traveler meniru gaya orang membaca koran, diam-diam menumpang berpayung pada saat hujan, dan saat mencopot pakaian ketika dipenjara.

Kendati baru pertama kali tampil bersama dan hanya latihan tiga hari, pentas kolaborasi seniman teater Osaka dan Teater Ayat Indonesia, menjadi tontonan menarik. Tomonori mengakui, selain adegan dan karakter, yang membedakan pentas "Traveler" di Jepang dan Indonesia ini, adalah tempat pentas di pendopo. "Biasanya pentas di gedung tertutup, sehingga langkah kaki dan tarikan nafas terdengar jelas," katanya. (SONYA HELLEN SINOMBOR)