FC2ブログ
 
1. Masalah Produksi "Panji Sepuh" yang Dicerminkan dalam Program Pentas

1. Masalah Produksi "Panji Sepuh" yang Dicerminkan dalam Program Pentas
oleh Michi Tomioka pada 16 Agustus 2011 jam 14:48
first appeared in Facebook


Bersama ini saya menyampaikan beberapa kritik dan saran mengenai susunan program pentas "Panji Sepuh" yang dilaksanakan di gedung Salihara pada tgl.12-13 Agustus 2011. Saya menonton pentas ini tgl.12 malam. Saya mengritik kekacauan yang terlihat dalam program ini, karena itu pasti akan mencerminkan kekacauan dalam produksinya.

(1) Credit Nama Sutradara Asli
Nama sutradara asli, yaitu Sulistyo Tirtokusumo tidak disebut secara resmi dalam program ini, namun disebut sedikit dalam catatan Yudi Ahmad Tajudin (“sutradara”) dan Laksmi Pamuntjak (producer). Hadir tidak hadir di panggung, mati atau belum mati, nama "ORIGINAL AUTHOR” atau sutradara asli harus diterangkan. Perlu diingati bahwa nama Shakespeare selalu disebut dalam garapan apapun sampai sekarang diseluruh dunia. “SANGKAN PARANING DUMADI” perlu ditanyakan; karya ini datang dari mana dan tujuan ke mana? Asal usul karya tidak kalah pentingnya dari tujuan karya.

“Panji Sepuh” bukan karya kolaborasi antara Sulistyo Tirtokusumo, Tony Prabowo, dan Goenawan Mohamad, sebagai ditanggap oleh Yudi dan si producer. Buktinya sebagai berikut; “sutradara: Sulistyo Tirtokusumo, musik: Tonny Prabowo, lirik-tembang: Goenawan Mohamad” dari program untuk pentas di TIM (pp.1), “Director: Sulistyo Tirtokusumo, Music: Tonny Prabowo, Lyrics: Goenawan Mohamad, Set Desighner: Roedjito” dari program untuk pentas di Melbourne 1994 (pp.7) serta di Korea 1995 (pp.5), “Panji Sepuh (Elder Panji) a production by Sulistyo Tirtokusumo” (pp.111) dan “Panji Sepuh choreographed by dancer Sulistyo Tirtokusumo” (pp.117) dari Indonesian Heritage 8 Performing Arts. Encyclopedia ini menerangkan “Panji Sepuh” diakui sebagai karya Sulistyo Tirtokusumo secara formal dalam sejarah tari Indonesia.
  Tanggapan “karya kolaborasi” muncul dari mana? Bisa diprakirakan dari kenyataan bahwa ada yang diangkat menjadi “kolaborator” dalam pementasan kali ini.

  Dengan alasan tersebut di atas, tidak tepat mengkatakan Yudi adalah sutradara karya “Panji Sepuh”. Dia adalah penggarap yang diundang untuk pementasan kali ini. Menurut tanggapan saya, sutradara sama dengan koreografer dalam dunia tari. Sutradara atau koreografer yang membentuk konsep karya kemudian mewujudkannya. Sebaliknya, penggarap adalah koki yang masak bahan yang sudah ada, atau penggali karya lama. Saya tidak mengecilkan peranan penggarap. Di dunia tari tradisi, hampir semua karya adalah karya garapan. Penggarap yang luar biasa akan menyajikan tafsiran baru yang mengatasi imaginasi kita termasuk sutradara asli, dimana kreativitas penggarap muncul.

(2) Jejak Karya
Dalam program ini, kita tidak bisa menemukan catatan keterangan secara obyektif tentang garapan asli, sejarah perubahan garapan, atau data riwayat pentas karya. Tidak ada bukti riwayat pentas berupa photo panggung, kliping Koran, reprint article dari brosur lama (misalnya kata pengantar oleh Jennifer Lindsay untuk pentas 1994), atau referensi dari buku seperti encyclopedia yang telah disebut diatas.
  Saya menyarankan agar program pentas “ulang” menyangkut informasi semacam itu, supaya penonton dan peneliti, masa kini maupun masa depan, akan bisa mengikuti jejak karya ini, atau akan bisa TRACE BACK THE HISTORY OF “PANJI SEPUH”. Sebuah program pentas kecil pun bisa menjadi dokumen sejarah yang berharga. Di Jepang hal ini sudah biasa, mungkin karena kami suka menghargai asal usul dan sejarah karya. (1) dan (2) sebenarnya dua sisi yang lain dari hal yang sama.

(3) Tujuan dan Makna Pentas Ulang  
Tidak jelas tujuan dan maknanya untuk pementasan ulang dengan garapan baru, dengan penggarap baru pada masa kini. Mungkin banyak penonton mau diberitahu hal itu. Saya harap ada penjelasan oleh Bp Goenawan sebagai prakata di halaman paling depan.
  
(4) Susunan Catatan  
Sehubungan dengan hal (3), susunan catatan dan pilihan pengarangnya aneh. Catatan Mas Yudi terkemuka akan memberi kesan yang salah bahwa “Panji Sepuh” adalah karya Mas Yudi. Itu harus diawali prakata àlihat (3).

  Catatan si producer tidak usah dimuat. Itu terdiri dari 2 bagian; konsep asli dan ide garapan baru. Keduanya bukan urusan si producer. Ide garapan baru cukup dijelaskan oleh Mas Yudi saja. Konsep asli karya bisa diutarakan oleh sang sutradara asli (karena beliau masih hidup), atau diprint dari program pentas pertama saja.

  Karena nampak sekali si producer kurang memahami konsep asli dan campurkan konsep asli dengan konsep tambahan baru. Duganya dia kurang berkomuniksi dengan sang sutradara asli. Kata “menurut para abdi dalem Kasunanan Surakarta…” dari paragraph yang pertama berkontradiksi dengan kata “Adalah Sulistyo Tirtokusumo yang pertama kali mendengar tentang ritus ini, dari guru tarinya” dari paragraph yang kedua. “Sulistyo sendiri tumbuh di Kraton Solo” dari paragraph yang kedua tidak benar, tetapi “Sulistyo sendiri tumbuh di linkungan Kraton Solo”.

  “Di awal kolaborasinya dengan Goenawan Mohamad, sang penulis lirik,dan Tony Prabowo, sang komposer, mereka lama bergulat mencari idiom teater yang tertepat bagi karya tersebut. Panji Sepuh pada dasarnya adalah sebuah karya kolaborasi. Semua anggota tim adalah bagian dari kreasi.”

  Tulisan tersebut diatas dari paragraph yang kedua menyingung intinya proses berkarya. Jika episode ini benar, meskipun saya belum pernah dengar cerita ini sama sekali, itu harus dimuat dalam program pentas 1993-1994, terutama dalam pengantar program untuk pentas di TIM 1993, karena pengantar tersebut dikarang oleh Goenawan Mohamad sendiri, kata Sulistyo Tirtokusumo. Akan tetapi, cerita ini tidak ditemukan dalam pengantar tersebut. Memang sutradara adalah Sulistyo Tirtokusumo dalam program itu juga. Ternyata si producer menulis catatan ini berdasarkan pada informasi yang tidak berakar.

  “Dengan Sembilan penari dan sembilan pengrawit, Panji Sepuh dalam bentuknya…” dari paragraph yang keempat adalah ide baru, dan bukan dari konsep asli. Menurut program TIM 1993, “Drama tari ini dihadirkan oleh lima orang penari utama yang mengenakan topeng dan dua peran pembantu.” Ide baru boleh dituangkan, tetapi harus disadari perbedaan antara garapan asli dan garapan baru. Penggarap baru sekaligus si producer baru harus menanggung jawab pada bagian ide baru.

(5) Susunan Bio(data)
  Susunan bio(data) peserta karya tidak terfokus dan tidak tertata apalagi terlalu panjang, maka memberi kesan seperti iklan masing-masing yang berderet-deret. Saran saya, biodata mereka tidak usah secara terperinci, tetapi perlu terfokus pada komitmen atau ikut-terlibatnya mereka dalam proses dan sejarah karya ini.

  Bio sutradara asli; Sulistyo Tirtokusumo tetap perlu, karena konsep karya tidak bisa dipahami tanpa pengertian latar belakang beliau. Simbol-simbol yang mucul dalam karya ini tidak lepas dari pengalaman beliau sebagai penari di Kraton Surakarta.

  S.Pamardi adalah penari yang bermain tokoh raja sejak pentas pertama. Penari asli yang ikut terlibat proses berkarya tinggal beliau saja, namun hal ini tidak disadari oleh si producer atau lainnya, maka hal ini tidak disebut sama sekali dalam program ini. Bahkan nama pun tidak dimuat dalam Program Juli-Agustus 2011 dari Salihara. Ini kesalahan besar bagi Salihara. Penari yang lain ikut pentas sejak tahun 2006 atau baru kali ini. Mereka bukan penari asli. Hal itu juga perlu dijelaskan. Memang peranan mereka relatif kecil, dalam arti tidak ikut proses melahirkan karya. Landung Simatupang memeran tokoh yang dimainkan oleh Sulistyo Tirtokusumo sendiri sampai 2006. Hal itu juga perlu disebutkan.

  Maksud saya supaya menjelaskan apa yang tidak merubah dan apa yang merubah. Dengan kata lain, menerangkan asal usul karya dan tujuan karya. Kalau diberi informasi yang benar tentang perbedaan antara penyutradaraan asli dan garapan baru, kita akan bisa mengapresiasikan karya secara lebih detail. Kita bisa menilai dan menikmati satu per satu tentang konsep asli, choreography lama, ide baru dari sutradara, improvisasi penari dsb. Penysutradaraan asli melebihi garapan baru pada titik tertentu, di samping itu garapan baru juga akan melebihi karya asli pada titik tertentu yang lain.
  
(6) Urutan Credit
Urutan credit nama penari aneh. Urutannya harus ditentukan sesuai dengan peranan dalam karya sekaligus career penari dengan peneuh perhatian. Urutan credit nama yang paling penting bagi para peserta. Duganya staff di Salihara kurang perhatikan persoalan sensitif ini. Saya memberi contoh credit nama yang lebih baik, menurut saya (àlihat halaman terakhir). Mengapa nama S.Pamardi ditaruh di bagian belakang? Peranan beliau berbeda dengan peranan penari kelompok perempuan, apalagi lebih senior dan penari asli dari penas pertama, maka lebih tepat pasang nama di paling depan. Mengapa penari dan actor dipisahkan? Namun Landung adalah pemain teater dan bukan penari, hal itu cukup disebut dalam bio saja. Beliau adalah penganti Sulistyo Tirtokusumo, dan tidak usah pisahkan dari penari yang lain.

  Ada penjelasan tentang pengrawit dalam credit nama (halaman belakang) bahwa “Para Pengrawit di bawah pimpinan Giono S.Kar telah bertahun-tahun terlibat dalam pementasan Panji Sepuh dalam versinya yang berbeda-beda.” Dan ada penjelasan lagi “Yusman Siswandi yang telah berbaik hati membantu kami dengan pewarnaan kostum”. Penjelasan-penjelasan seperti itu tidak boleh dimasukkan disini, karena bagian daftar nama, tetapi harus diberi tempat dalam bagian bio. Di bagian credit nama, nama saja yang ditulis.

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan program pentas ini, saya mengambil kesimpulan bahwa program ini dibuat tanpa riset cukup mengenai riwayat pentas sejak 1993, tanpa komunikasi dengan sang sutradara asli, tetapi dengan pandangan yang tidak netral. Nama sutradara asli disembunikan, peranan penari dari sejak awal dikecilkan, cerita asal usul karya dibuat baru dengan cara campur kebohongan dengan kebenaran, dan komponis dan lirik diangkat menjadi “kolaborator sejak awal”. Seolah-olah terjadi kup. Kekacauan yang terlihat dalam program ini mencerminkan realitas dalam produksi karyanya.