FC2ブログ
 
2. KETERANGAN TENTANG "PANJI SEPUH"
2. KETERANGAN TENTANG "PANJI SEPUH"
by Goenawan Mohamad on Wednesday, August 17, 2011 at 4:01am
first appeared in Facebook


Tulisan Michi Tomioka saya hargai sebagai kritik, tetapi agaknya perlu saya kemukakan di sini: dalam pengalaman saya di Indonesia, buku program punya keterbatasannya sendiri. Ia tak bisa tebal, baik karena beaya maupun karena tujuannya: pegangan praktis dan elementer buat penonton. Buku program lazimnya berbeda dengan katalogus pameran besar, apalagi skripsi.

Proses penciptaan "Panji Sepuh" -- yang saya ikuti sejak pertama -- sangat kompleks. Kata 'kolaborasi' penting, sebab hampir tiap peran dikerjakan lebih dari satu orang. Termasuk penyutradaraan. Sulistyo Tirtokusumo adalah penggagas dan sumbangannya sangat besar dalam membentuk adegan (termasuk payung terbakar) tapi dalam eksplorasi selanjutnya, dalam memberi pengarahan dan bentuk, ia tak sendiri. Seingat saya Tony Prabowo dan skenograf Rudjito juga berperan, dan saya menyumbang di sana-sini. Bahkan koreografi praktis disusun para penari. Dalam produksi pertama, mereka adalah Elly Luthan, Wiwiek Sipala, Restu Imansari, Maria Hutomo dan Pamardi. Seingat saya, Wiwiek memperkenalkan gerak pakarena dalam produksi pertama dan Restu melakukan improvisasi. Pamardi praktis menciptakan geraknya sendiri dan memilih tembangnya sendiri. Tentu saja ada sumbangan penting Elly dan Maria.

Dalam produksi selanjutnya, misalnya yang di Singapura, saya menjadi sutradara, tapi sumbangan Teguh Ostenrik banyak: misalnya adegan tiga penari, pengecatan wajah, dsb. Kali ini pun para penari, jumlahnya jadi tujuh, membangun koreografi yang berbeda: ada 'laku dhodok' dan lain-lain. Siapa yang punya ide dan bagaimana terjadinya, saya tidak tahu.

Dengan penyutradraan Yudhi Tadjuddin, perubahan juga terjadi. Yudhi sangat reseptif terhadap ide para penari, tapi justru dengan demikian, kreasi ini kembali jadi kolaborasi - meskipun pengarahan Yudhi jauh lebih produktif ketimbang sutradara sebelumnya.

Tiap kali agaknya "Panji Sepuh" sebuah ciptaan baru. Beberapa anasirnya tentu saja tetap: topeng, payung terbakar, penari putra (yang kebetulan selama 18 tahun tetap ditarikan Pamardi). Tapi penafsirannya berbeda besar. Dalam produksi di Singapura, misalnya, tak ada unsur "khaotik' -- yang menyebabkan "Panji Sepuh" kurang hidup, menurut saya. Di bawah Yudhi, unsur itu dihidupkan lagi bahkan diberi bentuk yang lebih dramatik.

Dengan kata lain, "catatan sejarah" proses penciptaan 'Panji Sepuh' (yang kompleksitasnya agaknya tak dibayangkan Tomioka-san) secara detail dan lengkap belum pernah dibuat. Kalau pun akan dibuat, pasti akan lebih mirip sebuah skripsi ketimbang buku program. Tapi ratusan penonton yang datang tak memerluka
n itu, Peneliti-lah yang memerlukan itu.

Maka saya silakan Tomioka-san mengadakan penelitian tentang proses "Panji Sepuh", dan menulis satu buku, misalnya tentang itu. Tapi saya ragu apakah saya akan memakainya sebagai buku program.