FC2ブログ
 
マンクヌガラン王家設立250年記念イベントの案内
今年はマンクヌガラン王家が設立されて250年の節目に当たり、さまざまな催しが開かれます。

2007年3月8日マンクヌガランでのBedhaya Diradameda公演もその一環です。

BERITA PERS

Peringatan 250th Puro Mangkunegaran: A Reviving Moment

19 Juli 2007
Lokasi : Rumah Imam Bonjol - Jakarta
Acara : Macapat, Pergelaran Tari, & Presentasi Pemugaran dan Penggalangan Dana

21 Juli 2007
Lokasi : Museum Nasional (Gajah), Jakarta
Acara : Reperformance of Bedhaya Mataram Senapaten Diradameta

18 Agustus 2007
Lokasi : Puro Mangkunegaran - Solo
Acara : Seminar Perjuangan Rakyat Mataram

19 Agustus 2007
Lokasi : Kota Solo dan sekitarnya
Acara : Napak Tilas Tempat-Tempat Persinggahan RM.Said

7, 8, 9 September 2007
Lokasi : Puro Mangkunegaran - Solo
Acara : Peringatan Ulang Tahun Grup Tari Soeryosumirat &140 Tahun Rekso Pustoko (Perpustakaan Mangkunegaran)

9 & 10 November 2007
Lokasi : Jalan di Sekitar Puro Mangkunegaran, dan Puro Mangkunegaran
Acara : "Solo Tempo Doeloe" : Pesta Seni Budaya dan Pasar Rakyat

11 November 2007
Lokasi : Puro Mangkunegaran - Solo
Acara : Pergelaran Tari Kolosal Perjuangan Rakyat Mataram & Berdirinya Puro Mangkunegaran Dalam Rangka Peringatan 250 Tahun Puro Mangkunegaran

2009
Jenis : Penerbitan Buku Pustaka
Materi : Buku Pustaka "250 Tahun Berdirinya Puro Mangkunegaran"


Ketika kokoh pondasi kian rapuh,
dan dinding – dinding putih semakin lusuh
oleh sang waktu yang tak henti menyepuh,
megah istana pun perlahan kian luluh,
lahirkan kegamangan, kobarkan kecemasan,
saat menyongsong angin yang terus
meniupkan perubahan pada zaman


MEMASUKI usianya yang ke-250 tahun ini, Puro Mangkunegaran semakin terlihat menua. Secara fisik, ia tampak rapuh dan memerlukan pemugaran. Sementara kini, keberadaannya sendiri bukan lagi sekadar saksi bisu sejarah dan budaya Indonesia, melainkan juga cagar wisata bagi siapapun warga dunia yang ingin menikmati keeksotisannya.

Pendapa Ageng adalah satu dari beberapa bangunan utama Puro Mangkunegaran. Seluas 3500 meter persegi, pendopo terluas di Indonesia itu kini membutuhkan perhatian khusus, mengingat beberapa bagiannya telah mengeropos akibat proses pelapukan. Di sisi barat pendopo, tampak beberapa pondasi atapnya telah ditopang bambu penyangga.

Sementara itu, Langen Projo atau ruangan karawitan merupakan tempat bersejarah yang telah melahirkan dan mendidik pemain-pemain gamelan Mangkunegaran dari berbagai lintas generasi. Kini, ruangan itu pun sama pentingnya untuk disentuh pemugaran. Lantai bangunannya rusak, atap mulai berlubang, serta dinding yang mulai berlumut dan kusam.

Di sisi barat Puro Mangkunegaran, kondisi bangunan bersejarah lainnya juga demikian. Panti Putro, misalnya. Pada zaman dahulu, bangunan ini merupakan tempat para calon raja/pangeran "dipingit" menjelang aqil baliq (dewasa) dan menyandang gelarnya. Di sana-sini, khususnya bangunan utama, mulai porak poranda dan tidak memungkinkan lagi dihuni. Tidak adanya dana perawatan membuat sekolah dasar "Siswo" yang dulu terkenal di situ kini beralih fungsi sebagai gudang penyimpanan barang inventaris Mangkunegaran.

Di bidang pendidikan formal, Puro Mangkunegaran sebetulnya cukup memberikan andil besar bagi Kota Solo dan sekitarnya. Dan lagi-lagi, hanya karena tidak ada dana perawatan, bangunan-bangun sekolah di lingkungan Puro itu kini kurang terawat baik. Bangunan "Siswo" untuk tingkat SMA yang berada di sisi kanan gerbang utama Puro Mangkunegaran, contohnya. "Gedung sekolah" itu kini juga semakin tidak terawat.

Rasanya, nasib bangunan bekas markas 'Artillerrie Kavalerrie' pun hanya sebatas kenangan kejayaan masa lalu Puro Mangkunegaran. Menghadap alun-alun Mangkunegaran, keberadaannya yang tinggi menjulang dan kokoh sebagai pusat perhatian publik itu kini tak lagi disertai perawatan memadai.

Dibangun sejak 1874, dinding bangunan bekas markas kavaleri itu kini tampak berlumut hitam dan keropos. Jendela-jendela besi kekar harus digantikan dengan papan kayu yang kini juga telah lapuk. Sementara itu, istal-istal kuda peliharan para pangeran sudah banyak yang kosong dan tak lagi berisi kuda-kuda gagah para prajurit dan bangsawan Mangkunegaran.


250th Puro Mangkunegaran:
Sebuah Momentum Mempertahankan Tradisi


SENJAKALA tradisi, perjalanan seni dan budaya suatu bangsa harus terus berjalan demi mempertahankan eksistensi bangsa itu sendiri bagi masa depannya. Kiranya, begitu pula Puro Mangkunegaran. Di usianya yang ke-250 tahun ini, semangat para pelaku seni dan budaya di dalamnya masih senantiasa muda dan bergelora. Karena mereka percaya, setiap sesepuh tua kelak akan pergi, dan digantikan oleh mereka yang muda untuk meneruskan tradisi melakoni seni dan budaya para leluhurnya.

Namun, akankah semangat tersebut pupus di tengah jalan, dan bahkan terhapus hanya karena perjalanan waktu yang akan terus menggerogoti tempat mereka bernaung itu? Sampai kapan? Setahun, dua tahun, atau sepuluh tahun, sementara waktu terus berjalan? Haruskah menunggu uluran tangan, hingga satu waktu dinding megah bangunan itu satu persatu akan roboh? Atau, menannti hingga atap nan indah menjulang itu akan runtuh?

Kini, bukan lagi waktunya menunggu, dan menunggu. Namun, sudah saatnya berbuat lebih nyata demi masa depan Puro Mangkunegaran. Sebuah warisan berharga, bukan hanya milik bangsa Indonesia, melainkan juga warga dunia.

Kiranya, momentum 250th Puro Mangkunegaran : A Reviving Moment" merupakan saat tepat yang dipilih oleh keluarga besar Puro Mangkunegaran yang terdiri dari Yayasan Pemerhati Puro Mangkunegaran (YPPM), Yayasan Soeryosumirat, beserta Himpunan Kerabat Mangkunegaran Soeryosumirat, untuk melakukan penggalangan dana bagi pemugaran Puro Mangkunegaran melalui beragam kegiatan seni dan budaya.

Sesuai rencana, setelah diawali Pergelaran Tari Bedhaya Mataram Senapaten Diradameta & Selamatan Perjanjian Salatiga (16 – 17 Maret 2007), serta Lomba Macapat (3 Juni 2007), beragam hajatan seni-budaya, dan sejarah lainnya pun telah dirancang oleh panitia Peringatan 250th Puro Mangkunegaran hingga November 2007 mendatang.

Beberapa mata acara, tempat, dan waktu pelaksanaannya, adalah sebagai tertulis diatas.


Sebagai deskripsi, acara puncak peringatan yang jatuh pada 9 dan 10 November 2007 nanti akan menyulap jalan-jalan utama Kota Solo dengan arak-arakan prajurit Puro Mangkunegaran yang diikuti dengan riuhnya marching band mengenakan busana khas budaya tradisional "ciri khas" Mangkunegaran. Keriuhan sejak pagi hingga petang hari tersebut juga akan diramaikan dengan digelarnya pusat-pusat kerajinan dan budaya tradisional di sepanjang areal acara (Alun-alun Mangkunegaran) . Semuanya berasal dari Solo, mulai toko besar sampai dengan penjaja barang kerajinan dan jajanan pinggir jalan.

Sehari berikutnya, keramaian acara akan diriuhkan dengan Peragaan Busana Tradisional Jawa Khas Mangkunegaran, mulai dari era terdahulu sampai yang terkini. Selain itu, telah disiapkan pula jamuan makan malam dengan sajian kuliner khas Puro Mangkunegaran, senandung musik keroncong, serta pergelaran Tari Kolosal "Perjuangan Rakyat Mataram & Berdirinya Puro Mangkunegaran" .

Khusus penyelenggaraan tari kolosal tersebut, panitia merancang keterlibatan sekitar 250 hingga 300 orang penari yang terdiri dari berbagai bangsa, etnis, dan suku, seperti warga negara Belanda, warga keturunan Tionghoa, suku Bali, Jawa, dan lain-lain yang akan melibatkan pasukan berkuda dan Gajah, serta Parade keluarga besar Puro Mangkunegaran & Sentono Abdi Dalem.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Yayasan Pemerhati Puro Mangkunegaran (YPPM), Yayasan Soeryosumirat, Himpunan Kerabat Mangkunegaran Soeryosumirat, serta Idekami Communication, dan didukung oleh PT HM Sampoerna Tbk. melalui payung program "Sampoerna Untuk Indonesia" yang memiliki visi sama dalam meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan nasional, di antaranya seni musik tradisional Jawa.

Salam dan Terima kasih,


M. Latief – Public Relation Idekami Communication
Phone : 021 766 9870
Fax : 021 759 04 530
Mobile : 0812 829 1263
Email : latipuscaverius@ yahoo.com, purel_idekami@ yahoo.com