FC2ブログ
 
9/25 私の記事、イネ紙に掲載
庭火祭(松江市熊野大社)でのスリンピ公演について書いた私の記事「Temu Konteks Sakral yang Sama di Luar Negeri (海外公演で同じ儀礼コンテキストに出会う」が、2012年9月25日、インドネシア、ジャカルタの日刊紙・千島日報(Qian Dao Ri Bao) J-2版に掲載されました。

new!
その元原稿をここにアップしておきます。
Tulisan bawah ini adalah naskah saya tentang pentas Niwabisai, yang terkirim ke koran harian Qian Dao Ri Bao tertgl.25 September 2012.
The following is my original essay on the Niwabisai performance sent to the daily Qian Dao Ri Bao newspaper dated 25 September 2012.



Temu Konteks Sakral yang Sama di Luar Negeri

Penulis: Michi Tomioka
peneliti Osaka City University, Urban Research Plaza


Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sukses mengelarkan tari upacara yang berjudul Srimpi Anglirmendhung secara utuh (1jam) pada tgl.8 September di halaman Kumanotaisha, sebuah pura agama shinto di kota Matsue, Shimane, Jepang.

Lebih dari 1000 orang penonton yang duduk di tikar tipis atas kerikil di halaman pura tidak mau meninggalkan tempat di tengah pentas, namun tari upacara ini cukup panjang dan monoton, apalagi situs ini tidak tertutup dan bebas keluar masuk. Hal ini lain dengan pentas Niwabisai sebelumnya, kata beberapa staf panitia.

Setiap tahun sejak 1992, kelompok musik & tari etno diundang dari luar negeri untuk mempersembahkan pentas tunggal kepada dewa api yang menduduki kediaman Kumanotaisha. Panitia didukung oleh banyak pihak di setempat seperti ikatan anggota paroki (parishioner) Kumanotaisha, pemerintah daerah, asosiasi tourism, dsb.

Namum acara baru, Niwabisai tetap diawali upacara shinto, yaitu doa pendeta dan tari kagurai sakral oleh 4 penari gadis. Habis tari kagura, 4 penari srimipi yang muncul di panggung guna tari kagura, bermeditasi, dan turun ke halaman persis depan gedung utama, seolah-olah bidadari turun dari langit.

Ada kesamaan antara kedua tarian sakral: tari kagura dan tari srimpi, yaitu konsep ”kiblat papat (empat kiblat)”. Sebelum mulai pentas, saya: Michi Tomioka mengumumkan hal itu kepada para penonton, atas permintaan panitia. Menurut panitia, penonton senior di tempat tidak puas dengan sekedar tontonan, sebaliknya ingin dapat pengetahuan baru juga. Penjelasan setiap nama dewa/dewi yang menduduki 4 kiblat, konsep kosmos di Jawa ternyata menyenangkan hati penonton, kata panitia.

Kalau dipentaskan dalam versi pemadatan, konsep kiblat papat tidak akan ditangkap secara sempurna. Konsep tari sakral tidak begitu diberi perhatian dalam sejarah perkembangan tari di Indonesia, dimana keaneka-ragaman perbendaharaan diorientasikan, seperti seni pertunjukan Barat. Sedangkan, unsur simetri dan monoton yang terulang berkali-kali tidak bisa lupas dari suasana magis. Penonton di Shimane tidak mau meninggalkan tempat, karena mereka menemukan nilai yang sama dalam tari srimpi dengan kesenian sakral yang mereka miliki. Hal ini disampaikan kepada Michi oleh tidak sedikit orang anggota panitia sekaligus para penyaji sendiri juga, waktu penutupan acara malam ini.

Shimane, yang terletak di pinggir tanah Jepang, telah menjadi daerah yang pradaban paling maju sampai kurang lebih abad ke-7. Meskipun kerajaan Kaesar menguasai politik duniawi di tanah air jepang, daerah Shimane tetap menguasai kekuatan magis sampai sekarang.

Pura Kumanotaisha terletak di desa Yakumo, yang berarti banyak awan (mendung). Nama daerah ini sudah ditemukan dalam koleksi puisi atau koleksi mitos yang disusun pada abad ke-7. Sedangkan, Srimpi Anglir Mendung yang diciptakan pada tahun 1790 dipercaya mendatangkan awan di Keraton Surakarta. Situs pentas bersejarah ini tidak sama sekali kalah dengan tari Jawa yang magis.

Sudah diketahui dari yang tersebut di atas, penonton di Shimane pada khususnya, atau orang Jepang pada umumnya, cenderung menghargai kesenian sungguh sakral dan bersejarah. Kesakralan tari Srimpi Anglirmendhung diungkapkan mellalui koreografi utuh oleh para penyaji yang mewariskan kesenian tersebut. 9 dosen dari 13 anggota rombongan ISI Surakarta telah terlibat di proyek negara: PKJT (Pusat Kesenian Jawa Tengah ), dimana tari srimpi, tarian pusaka Keraton Surakarta diizinkan masyarakat Indonesia untuk belajar. Michi Tomioka, yang ikut menari srimpi sekaligus berperan sebagai koordinator, telah belajar di dalam maupun luar Keraton Surakarta selama 5 tahun, kemudian mengadakan proyek penggalian tari srimpi dan bedhaya kerjasama dengan ISI Surakarata (tahun 2006-2007).

Program malam ini terdiri dari 2 bagian besar. Setelah tari srimpi sebagai sajian kepada dewa, ada tari pergaulan antara dewa dan manusia (tari tayub), dan kedua bagian disambung dengan musik instrumen gamelan dan musik kolaborasi dengan pemusik abdi dalem Kumanotaisha.

Dalam upacara Shinto, kesenian merupakan sebuah sesaji sekaligus media komunikasi antara dewa-dewi dan manusia.Tayuban yang dibuka oleh tarian Bapak Slamet Suparno, Rektor ISI Surakarta dan Bapak Salim, dilanjutkan oleh Bapak Bambang Soegianto, Konsul dari KJRI Osaka, kemudian ketua panitia, 3 orang penari srimpi..., akhirnya penonton juga diajak. Michi yang memberi narasi supaya mengenalkan para tokoh-tokoh yang ikut menari tayuban. Menurut panitia, penduduk di daerah ini sangat konservatif, maka sulit diajak bergaul. Namun demikian, mereka kelihatannya cukup berani menari bersama, dari pengamatan Michi.

Meskipun kepercayaan orang Jawa terhadap Srimpi Anglirmendhung, tidak hujan sama sekali pada hari pentas. Dalam sejarah Niwabisai selama 20 tahun, hal ini sangat luar biasa. Sebagai terlihat dari nama daerah, Yakumo terkenal dengan banyak hujan. Ternyata rombongan dari Indonesia sukses menyenangkan hati dewa api di tanah Yakumo, sekaligus hati masyarakat di sekitarnya. Melalui pengalaman pentas ini, kedua pihak: tuang rumah di Shimane sekaligus tamu dari Indonesia berhasil menemukan konteks upacara sakral yang sama yang diwariskan di negara masing-masing. Pertukaran budaya semacam ini diharapkan sebagai tahap yang berikut dari tahap sekedar tontonan.