FC2ブログ
 
庭火祭について~Meniek寄稿文
今回の庭火祭ツアー(ISI Surakarta)にはインドネシアからフィルムプロドゥーサーでクルタガマ芸術文化財団のムニッさんも同行しました。彼女の庭火祭公演のレポートが届きましたので、公開します。インドネシア語です。

Ini merupakan sebuah esay oleh mbak Menik, salah satu pengurus Yayasan Kertagama sekaligus produser film, yang ikut tour kami untuk menyaksikan pentas Niwabisai di Shimane, Jepang. Terima kasih kontribusinya, mbak!

The following essay was written by Ms Meniek, who was one of the management board of the arts and culture "Kertagama" Foundation, and followed our tour from Indonesia to observe the Niwabisai Concert held in Shimane, Japan. Thank you for your contribution, Meniek!



Tari Srimpi Anglir Mendhung
20th Niwabisai Festival 2012
Matsue, Shimane, Jepang

Meniek Soerjosoetanto


Perpaduan yang sangat unik Tari srimpi dengan latar belakang sebuah Kuil tradisional Jepang, Kumanotaisha.

Tari dari kata bahasa Jawa ”beksa”, “ambeg” dan “esa”, artinya orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan luluhnya wujud gerakan-gerakannya. Seni tari adalah ungkapan yang diekspresikan melalui gerak-gerak organ tubuh yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya.

Seni tari merupakan bagian budaya bangsa sudah ada sejak jaman primitif, Hindu, Islam, sampai sekarang. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan.

Atas undangan dari Panitia “The 20th Niwabisai 2012 Festival, bertempat di Kumanotaisha (The Grand Shrine of Kumano), Yakumo-Cho, Matsue, Shimane, Jepang. Grup penari dan pengrawit dari ISI Surakarta, dengan koordinator sekaligus penari Ibu Michi Tomioka, telah berpentas, mengadakan workshop, serta berkolaborasi dengan grup kesenian sakral dari Kumanotaisha.

Kumanotaisha festival disebut 'Niwabisai' berlangsung setahun sekali pada hari Sabtu di bulan September. Tahun ini festival berlangsung pada hari Sabtu tanggal 8 September 2012 telah menampilkan Tari srimpi dari Indonesia. Panitia mengundang grup seni dari luar negeri setiap tahun dengan jumlah penonton lebih dari 1,500 orang.

Sedangkan workshop sesi pertama diadakan di SD Yakumo dengan jumlah peserta dari kelas 1 sampai kelas 6, sebanyak 350 anak. Workshop sesi kedua diadakan di SD Tamayu dari kelas 1 sampai kesas 6 dengan jumlah peserta 200 anak.

Adalah sebuah kebanggaan bagi Indonesia karena panitia menyetujui pentas secara utuh tanpa diperpendek, tari serimpi Anglir Mendung yang bersejarah. Tari Serimpi dianggap sebagai tarian yang sakral akan berpentas di sebuah Kuil yang sangat kaya dengan tradisi Jepang kuno dan suci. Pemilihan ini berdasarkan kriteria bahwa mereka hanya mempersembahkan kesenian yang bermutu sangat tinggi dan dianggap sebagai sebuah seni klasik yang tidak komersial.

Tampilnya grup tari srimpi dari ISI Solo adalah jasa baik dan usaha yang tak kenal lelah yang telah dilakukan oleh Michi Tomioka.

Michi Tomioka adalah salah satu peneliti tari dan penari dari Jepang yang sudah lama mempelajari seni tari di lndonesia khususnya tari srimpi dan bedhaya gaya Surakarta. Sebagai seseorang dari Indonesia saya sangat bangga dan berterima kasih atas dedikasi ibu Michi terhadap warisan seni budaya Indonesia yang adiluhung ini.
Michi Tomioka juga memberi presentasi dan chairman dalam “Tourism in Asia” di 22nd Conference of IAHA (International Association of Historians of Asia di Surakarta, pada awal Juli yang lalu. Hal ini menujukkan bahwa seni tari khususnya Srimpi Anglir Mendhung dan gamelan telah menarik minat kaum intelektual di Jepang untuk mengenal dan mempelajarinya secara serius.

Peserta seniman adalah Michi Tomioka dari Jepang bersama grup ISI Surakarta yang diketuai oleh Rektor Prof.Dr. Slamet Suparno.

Tari srimpi adalah salah satu jenis tari klasik dari kerajaan Mataram yang selalu dibawakan oleh 4 penari, karena kata srimpi adalah sinonim bilangan 4. Keempat penari puteri srimpi ini melambangkan empat mata angin, empat unsur dari dunia yaitu Grama (api), Angin (udara), Toya (air) dan Bumi (tanah), serta melambangkan terjadinya manusia, sedangkan komposisi segi empat melambangkan tiang Pendopo.

Nama srimpi dikaitkan ke akar kata “impi” atau mimpi. Menyaksikan tarian lemah gemulai sepanjang 3/4 hingga 1 jam itu sepertinya orang dibawa ke alam lain, yaitu alam mimpi.
Tari Srimpi Anglir Mendhung adalah tari srimpi yang paling sakral ciptaan Mangkunegara I pada tahun 1790 sebagai tari bedhaya dan dipersembahkan ke Keraton Surakarta. Menurut mitos tari srimpi tersebut bisa mendatangkan hujan.

Jaman kuno, niwabisai atau upacara api unggun dilakukan pada malam hari untuk persembahan seni tari kepada para dewa.Festival Niwabisai merupakan upaya untuk menghidupkan kembali semangat tradisi kuno. Festival Niwabi-sai pertama kali diadakan pada tahun 1993 dengan menampilkan Indian Music dari India.

Sebagai orang Indonesia saya sangat bahagia dan bangga karena salah satu anggota panitia ada yang mempunyai gamelan Jawa, disana ada kegiatan latihan gamelan.

Ini menujukkan bahwa perhatian masyarakat Jepang terhadap kesenian Indonesia khususnya kesenian Jawa itu sangat tinggi.

Sehingga panitia memberi kesempatan kepada Indonesia untuk tampil ketiga kalinya pada ulang tahun festival Nawabi-sai yang ke-20, ulang tahun ke-10 di tahun 2002 dan tahun 1994 dengan menampilkan musik Gamelan Jawa.

Perayaan ini sangat bagus untuk mewarisi dan mewariskan tari tradisionai sebagai “Art Heritage, hal ini sesuai dengan semangat pecinta seni Indonesia untuk ”Mengangkat nilai adiluhung filosofi seni tari srimpi sebagai warisan budaya unggulan dalam membangun kejayaan dan kemakmuran Indonesia.”

Saya sangat terkesan dengan adanya pertukaran seni dan kolaborasi antara Jawa khususnya Solo dan Shimane, dimana keduanya merupakan kota kuno yang masih mempertahankan seni, budaya dan tradisi yang masih dianggap sakral oleh masyarakatnya.

Saya sangat senang karena orang Jepang sangat mengapresiasi seni Indonesia, hal ini terlihat pada saat pentas dan workshop di SD, anak-anak, guru-guru terlihat sangat bersemangat dan gembira menari bersama dan mencoba gamelan.

Pada umumnya masyarakat Jepang sangat senang dan menghargai dengan seni budaya tradisional, klasik, dan bermutu tinggi.

Saya sangat memuji hasil kerja keras panitia yang telah bekerja sebagai relawan secara gotong royong dalam menyelenggarakan acara ini, tentu tidaklah sia-sia, karena pentas ini telah berhasil dilaksanakan dengan sukses.

Saya sangat berterima kasih atas sambutan yang luar biasa, makanan yang sangat enak, keramah tamahan dalam menjamu kami, dimana masyarakat disini masih menjujung tinggi tradisi.

Diundangnya Indonesia dengan menampilkan tari Srimpi Anglir Mendhung pada The 20th Nawabi-sai Festival 2012, di Jepang ini adalah even yang penting dan merupakan kebanggan bagi Indonesia.

Penampilan Indonesia untuk ketiga kalinya menunjukkan bahwa gamelan dan tari srimpi sangat dihormati di Jepang serta sangat layak untuk tampil di pentas dunia.

Tidak hanya sebagai seni pertunjukan namun sebagai media dialog interaktif, dengan adanya workshop di sekolah membuat seni tari khas Indonesia semakin diminati di Jepang.

Bagi seniman Indonesia, festival ini telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi perkembangan seni tari dan gamelan, sehingga kegiatan ini terus ditunggu oleh para seniman Indonesia yang ingin terus berkembang dan maju di tingkat dunia.

Festival ini juga sangat berguna untuk meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia-Jepang terhadap seni budaya Jepang yang klasik dan bermutu tinggi dan tari srimpi dari Indonesia.

Akhir kata, saya berharap di masa yang akan datang agar lebih ditingkatkan pertemuan para intelektual seni dari kalangan perguruan tinggi Indonesia dan Jepang, sebagai sarana dialog, kolaborasi, bertukar wawasan, sarana pendorong aktivitas seniman gamelan dan tari Indonesia – Jepang agar terpacu bekerja sama lintas budaya.