FC2ブログ
 
インドネシアメディアKOKIに紹介記事
インドネシアのオンライン新聞に私の記事が掲載されました。2年前の島根公演のレポートと最近の活動についてです。

記事: Michi, Orang Jepang Berkarakter Jawa
執筆: liu she (Jakarta)
掲載紙: KOKI (=Kolom Kita)
※クレジットが入っていませんが、記事トップとラストの写真はArif Budiartoによるものです。島根公演、ワークショップの写真は私自身の撮影です。
http://kolomkita.viva.co.id/baca/artikel/26/4402/michi_orang_jepang_berkarakter_jawa

※本文を続きに掲載しています。
Michi, Orang Jepang Berkarakter Jawa
liu she - Jakarta

Michi Tomioka, mungkin lebih Jawa ketimbang orang Jawa asli. Ketika masyarakat Jawa umumnya sudah melupakan akar kebudayaannya sendiri, Michi Tomioka malah demikian intens dan konsistensi menggeluti penelitian dan melestarikan budaya khas leluhur Jawa.

Tak cuma itu. Michi Tamioka pun teramat antusiasmempromosikan kebudayaan Indonesia di negaranya sendiri, Jepang. Dia menggelar pentas tari Srimpi Anglir Mendhung di pura agama Shinto di kota Matsue, Shimane, Jepang beberapa tahun yang lalu dipadati pengunjung.

“Sebelumnya, tidak pernah ada pentas yang mana penontonya bisa bertahan sejak awal sampai akhir. Bahkan Konjen (Konsulat Jenderal, KBRI/Kedutaan Besar Republik Indonesia) juga hadir. Rektor ISI juga sempat menarik salah seorang penonton (orang Jepang) untuk ikut menari,” tutur Michi kepada Redaksi (25/5).

Rombongan ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta yang diketuai Prof.Slamet Suparno sebagai rektor, berangkat ke Jepang untuk pementasan di sebuah pura agama Shinto. Pura tersebut berstatus tinggi, tetapi bukan satu-satunya pura yang sudah menggelar acara yang sama, tari tradisional Indonesia.

Rombongan berangkat hari Selasa (4/9) dari Solo ke Jepang, terdiri dari 14 orang termasuk dosen dan mahasiswa. Rencananya rombongan akan menggelar tari Srimpi Angli Mendhung, dengan melibatkan tiga dosen senior.

“Saya juga ikut menari. Kebetulan saya, sebagai satu-satunya penari asal Jepang,” ungkap Michi Tomioka, penari asal Jepang.

Selain Michi, ada tiga penari lainnya yaitu Rusini, Ninik Mulyani Sutrangi dan Sulistyo Haryanti. Rombongan ISI akan menyaksikan juga Shimane, sebagai daerah yang sangat berorientasi pada teknologi tinggi pada abad ke 4 s/d abad ke 5.

Shimane, sebagai daerah yang masih dipercaya sebatai tempat berkumpulnya para dewa-dewi. Dari seluruh tanah air di Jepang, para dewa-dewi berkumpul di Shimane setiap bulan Nopember untuk suatu pertemuan.

Selain itu, penari pentas di Niwabisai, juga merupakan acara tahunan di Kumanotaisha Shrine sejak 1992. Melihat kedekatan dan ikatan dengan komunitas seni di Jawa, tak heran kalau Michi kenal dengan beberapa penggiat kesenian khas Jawa.

Ketika baru tiba di Jakarta (24/5), ia langsung menghadiri pagelaran Wayang Golek Pesisiran, Jamaludin The Robber di GKJ Pasar Baru Jakarta. Ia terlihat membaur dengan beberapa pedalang, penari, pesinden, sutradara, dana lain sebagainya.

Ia sempat berkilas balik dengan teman se-almamaternya di ISI, antara lain Cahwati (piñata tari/vokalis) Sanggar Budayaku. Ia juga reuni-an dengan beberapa seniman, yang juga pengurus sanggar Budayaku seperti Sedjati Emmy Kusumadewi, Waluyo Sastro Sukarno dan lain sebagainya.

“Saya teringat, ketika dosen-dosen senior di ISI. Mereka dulu, harus bisa menguasai tiga unsur yaitu dalang, tari dan karawitan. Sehingga generasi mereka berkesempatan tampil di Jepang,” kisah Michi.

Ia membandingkan kegiatan kesenian dan perkuliahan ISI era tahun 1970-an dengan sekarang. Menurutnya, era akhir tahun 1970-an, lebih berat ketimbang yang diemban mahasiswa era di atas 1980-an, sampai sekarang.

“Sebelum tahun 1980-an, belum ada jurusan tari. Saya masuk ISI tahun 1996. Sebelumnya sudah datang ke Solo selama satu bulan, belajar privat tari Shrimpi. Waktu saya masuk, namanya ISI. Sekarang sudah berubah menjadi STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia),” jelasnya lagi.

Selama dua tahun, 1996 – 1998, ia belajar berbagai ilmu dan pengetahuan khas Jawa. Lalu, karena situasi perpolitikan pada tahun 1998 tidak memungkinkan, ia kembali ke negaranya.

“Waktu itu, (mantan presiden) Suharto lengser, dan ada kerusuhan. Kebetulan juga, saya kehabisan biaya. Akhirnya saya kembali ke Jepang. Tahun 2000, saya kembali lagi ke Indonesia dengan beasiswa dari Osaka Foundation serta Heawa Foundation. Saya terus melanjutkan belajar tari. Dua tahun, bagi saya tidak cukup,” pungkasnya.

Liu
- See more at: http://kolomkita.viva.co.id/baca/artikel/26/4402/michi_orang_jepang_berkarakter_jawa#sthash.bZaXcpsh.dpuf